Alun-Alun Kota Tasikmalaya Dipoles Rp30 Juta Setelah Bertahun-Tahun Kusam: Cat Jadi Solusi Darurat

pemeliharaan Alun-Alun Kota Tasikmalaya Rp30 juta
Kadis LH Kota Tasikmalaya, Sandi Lesmana, menunjukkan perawatan ikon Alun-Alun Kota Tasikmalaya, Kamis (19/2/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

“Tadi ada yang duduk di atas tembok. Saya tanya kenapa duduk di situ, dia bingung jawabnya. Mungkin sudah jadi kebiasaan. Teu aya nu nyarek,” katanya sambil menggeleng.

DLH menilai, tanpa perubahan perilaku pengunjung, cat baru pun hanya akan menjadi hiasan sementara. Pengawasan terbatas, sementara penggunaan fasilitas sering tidak sesuai fungsi.

Dalam kondisi kas pas-pasan, DLH pun membuka pintu bagi dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Baca Juga:Ditinggal Tarawih, Rumah PNS di Kota Tasikmalaya Dibobol Maling: Uang Rp20 Juta Raib, Pintu Tetap TerkunciRiset Smart Trash Universitas Mayasari Bakti Dorong Pengelolaan Sampah Digital di Kota Tasikmalaya

Sandi mengajak perbankan dan pengusaha di Kota Tasikmalaya ikut turun tangan membenahi ruang terbuka hijau dan taman kota, termasuk kawasan RTH Tebu-tebu Hijau.

“Mari salurkan CSR untuk mengecat RTH, taman-taman di dalam kota. Mudah-mudahan Tasik bisa lebih baik,” ujarnya.

Sandi juga mengingatkan bahwa di kawasan alun-alun berdiri Tugu Mak Eroh dan Abdul Rozak, simbol perjuangan di bidang lingkungan hidup.

Mak Eroh dikenal sebagai petani dari Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, yang menerima penghargaan Kalpataru pada 1988.

Keberadaan tugu itu seharusnya menjadi pengingat bahwa alun-alun bukan sekadar tempat nongkrong, tapi ruang publik yang menyimpan sejarah dan simbol kota.

Namun untuk saat ini, pembenahan Alun-Alun Kota Tasikmalaya masih sebatas lapisan cat dan sapu lidi. Ikon kota dipoles, tapi masalah mendasarnya belum sepenuhnya tersentuh. Wajah boleh cerah, asal jangan cuma kosmetik. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar