TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Setelah bertahun-tahun tampil kusam seperti etalase yang lupa dibersihkan, Alun-Alun Kota Tasikmalaya akhirnya dipoles ulang.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya menggelontorkan anggaran Rp30 juta untuk mengecat dan membersihkan kawasan ikon kota di Jalan Otto Iskandardinata, Empangsari, Kecamatan Tawang.
Jumlahnya memang tak seberapa untuk ukuran wajah kota. Bahkan DLH secara terbuka mengakui, pemeliharaan kali ini lebih mirip perawatan darurat: sekadar mengusir lumut dan menutupi kusam dengan lapisan cat baru.
Baca Juga:Ditinggal Tarawih, Rumah PNS di Kota Tasikmalaya Dibobol Maling: Uang Rp20 Juta Raib, Pintu Tetap TerkunciRiset Smart Trash Universitas Mayasari Bakti Dorong Pengelolaan Sampah Digital di Kota Tasikmalaya
“Sekarang kita lagi pemeliharaan dengan pengecatan rutin. Dengan keterbatasan anggaran, kita upayakan hasil maksimal,” kata Kepala DLH Kota Tasikmalaya, Sandi Lesmana, Kamis (19/2/2026).
Ia tak menampik bahwa Alun-Alun Kota Tasikmalaya sudah lama minim sentuhan perawatan.
Fokus pengecatan dipilih karena kerusakan paling mencolok ada pada dinding-dinding yang berlumut dan batu hitam yang selama ini belum pernah difinishing.
“Beberapa tahun ini kan belum ada pengecatan. Yang paling kelihatan itu dinding berlumut. Batu hitam juga belum difinishing, jadi kelihatan kotor. Sekarang kita rapikan dulu itu,” ujarnya.
DLH menyebut, pekerjaan yang dilakukan saat ini belum menyentuh persoalan struktural.
Penembokan atau perbaikan fisik yang lebih berat belum bisa dilakukan karena keterbatasan kemampuan dan anggaran.
“Kita baru bisa pengecatan dan pembersihan. Belum bisa ke penembokan karena memang belum punya kemampuan ke arah sana,” katanya.
Baca Juga:Plat Nomor Terbalik, Mobil Dinas Pemerintah Kota Tasikmalaya Viral: Sekretaris BPBD Akui LalaiTak Pulang Sejak Siang, Pria 73 Tahun Ditemukan Meninggal Dunia di Saung Kolam Kota Tasikmalaya
Proses pemeliharaan ditargetkan berlangsung sekitar satu bulan. Sandi menyampaikan secara terbuka bahwa anggaran Rp30 juta hanya cukup untuk membeli cat dan membayar upah pekerja.
“Anggarannya hanya Rp30 juta. Itu cuma cukup buat beli cat dan bayar tenaga kerja,” ucapnya lugas.
Di luar soal fisik, DLH juga kembali menyinggung masalah klasik: fasilitas taman yang sering hilang.
Lampu taman yang raib seperti punya kaki sendiri masih menjadi cerita berulang di Alun-Alun Kota Tasikmalaya.
Menurut Sandi, persoalan itu bukan sekadar soal pemeliharaan, tapi juga budaya masyarakat dalam menggunakan ruang publik.
Saat berada di lokasi, ia bahkan menegur warga yang duduk di atas dinding alun-alun.
