TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Angka itu muncul di layar ponsel. 84,14. Bukan di laporan kinerja setebal ratusan halaman. Melainkan di akun media sosial pribadi Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi.
Lewat unggahan itu, Viman menyampaikan klaim: indeks kepuasan masyarakat Kota Tasikmalaya dicatat di angka 84,14. Angka yang menurut pemerintah kota, menjadi penanda bahwa pelayanan publik kini lebih responsif.
Programnya diberi nama Tasik Melayani. Nama yang sederhana. Mudah diingat. Dan terdengar menjanjikan.
Baca Juga:Satu Tahun Kerja Versi Wali Kota Tasikmalaya yang Diunggah!Setelah Batukaras, Jalan Scooter Tasikmalaya Club (STC) Tidak Pernah Lurus!
SUnggahan tersebut menjadi bagian dari cara Viman menjawab satu pertanyaan penting: apa saja hasil dari satu tahun pengabdian memimpin Pemerintah Kota Tasikmalaya?
Alih-alih menunggu forum resmi, wali kota memilih bercerita langsung kepada publik. Tanpa podium. Tanpa teks pidato. Tanpa moderator.
Cara yang sangat zaman ini. Angka yang Rapi. Angka selalu tampak meyakinkan.
84,14 bukan angka bulat. Ia terlihat hasil perhitungan. Terukur. Ilmiah.
Dalam narasi pemerintah kota, angka itu menandakan perubahan: pelayanan yang lebih cepat, lebih tanggap, lebih ramah.
Namun angka—seperti biasa—tidak pernah ikut mengantre.Pelayanan publik bukan sekadar grafik. Ia hidup di loket-loket kecil. Di kantor kelurahan. Di kecamatan. Di puskesmas.
Di situlah Tasik Melayani diuji setiap hari.
Warga tidak bertanya berapa indeks kepuasannya. Mereka bertanya: selesai hari ini atau tidak.
Media sosial kini menjadi etalase kinerja. Tempat pejabat menyusun narasi tentang dirinya sendiri. Viman Alfarizi tampaknya sadar betul, kepemimpinan hari ini bukan hanya soal bekerja, tapi juga soal menjelaskan.
Apakah unggahan itu akan meyakinkan?
Jawabannya tidak ada di akun media sosial.
Baca Juga:Di Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Jalan Keluar yang Sebenarnya Ada (Part 5-Habis)Di balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Pejabat yang Selalu Selamat (Part4)
Jawabannya ada di pengalaman warga saat berhadapan langsung dengan pelayanan pemerintah. Karena pada akhirnya, angka boleh diumumkan.Tapi kepuasan hanya bisa dirasakan.
Unggahan Wali Kota Tasikmalaya itu rapi.
Angka jelas. Program disebut. Narasi disusun. Seolah ingin mengatakan: kami bekerja, dan ini buktinya.
Namun di luar layar ponsel, cerita lain berjalan pelan-pelan. Cerita tentang warga yang datang pagi-pagi ke kantor pelayanan. Tentang antrean yang tidak selalu singkat. Tentang petugas yang ramah—dan yang belum sempat ramah.
