Pernyataan itu merujuk pada kartu merah yang mengubah arah pertandingan dan membuka ruang bagi Galatasaray untuk menggempur habis-habisan.
Bagi Koopmeiners, catatan dua gol pribadinya sama sekali tak berarti.
“Dua gol? Saya tidak bisa senang. Ketika melihat skor akhir, Anda sadar gol itu tidak berarti apa-apa. Mencetak gol hanya penting jika membantu tim menang,” tegasnya.
Kekalahan tela ini membuat suasana ruang ganti Juventus tegang, para pemain menyadari bahwa keunggulan yang dibangun selama 45 menit pertama sirna begitu saja karena kehilangan fokus dan disiplin.
Baca Juga:Dua Wakil Italia Tumbang di Babak Playoff Liga Champions, Juventus Paling MeranaDrama di Laga Benfica vs Real Madrid, Mourinho Diusir Usai Minta Wasit Beri Kartu Merah ke Vinicius
Kini perhatian mereka beralih ke laga derbi melawan Torino di kompetisi domestik.
Koopmeiners menegaskan pentingnya memetik tiga poin atas Torino untuk membangkitan mental tim.
“Kami harus belajar dari pertandingan ini. Jika ingin menang, dua gol saja tidak cukup. Dalam laga tertentu, Anda harus mencetak tiga gol dan, yang terpenting, tetap solid sampai akhir,” pungkasnya.
Di tengah tekanan dan sorotan tajam, Juventus tak hanya menghadapi tantangan di lapangan, tetapi juga perang psikologis di luar stadion.
Sindiran Felipe Melo mungkin hanya unggahan singkat di media sosial, tetapi bagi publik Turin, itu terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka yang masih menganga.
