Juventus Terpuruk di Istanbul, Spalletti Diminta Contek Ilmu Allegri

Luciano Spalletti
Luciano Spalletti Foto: Tangkapan layar DAZN
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Banyak hitam, sedikit putih. Begitulah gambaran malam kelam Juventus di Istanbul.

Bertandang ke markas Galatasaray yang kunjungan pertama sejak laga bersalju pada 2013, Bianconeri tumbang dengan cara paling menyakitkan: kalah 5-2 pada leg pertama play-off Liga Champions UEFA.

Padahal, babak pertama berjalan menjanjikan. Juventus menutup 45 menit awal dengan keunggulan 2-1 berkat dua gol Teun Koopmeiners.

Baca Juga:Jurnalis Italia Kesal Ada Pihak yang Meminta Gattuso Tak Memanggilnya Bastoni ke Timnas ItaliaDel Piero Yakin Juventus Gugur di Babak Playoff Liga Champions: Mustahil Comeback Lawan Galatasaray

Namun semuanya berubah setelah jeda. Kartu merah Juan Cabal membuat tim asuhan Luciano Spalletti bermain dengan sepuluh orang.

Sejak saat itu, Juventus seperti kehilangan arah dan benar-benar “keluar dari pertandingan”.

Koopmeiners menjadi satu-satunya kabar baik dari Turki lewat dua golnya.

Selebihnya, lini belakang tampil rapuh. Kelly juga tampil negatif, kewalahan menghadapi performa impresif Victor Osimhen yang tampil dominan dan menjadi momok sepanjang laga.

Statistik pun berbicara keras. Dalam empat pertandingan terakhir, Juventus sudah kebobolan 13 gol. Angka yang mencerminkan krisis pertahanan serius. Spalletti tidak menutupinya.

“Kami tidak hanya mundur satu langkah, tetapi tiga langkah ke belakang,” aku Spalletti seusai laga.

Pelatih asal Certaldo itu juga membuka kemungkinan perubahan taktik, termasuk kembali ke skema tiga bek.

“Kami harus mengubah sesuatu. Kami tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama seperti di pertandingan-pertandingan terakhir, karena kami melakukan kecerobohan,” tegasnya.

Namun harapan Juventus untuk membalikkan keadaan tidak ditopang statistik.

Baca Juga:Viral di Medsos, Juventus Diejek Mantan Pemainnya Usai Dibantai GalatasarayDua Wakil Italia Tumbang di Babak Playoff Liga Champions, Juventus Paling Merana

Dalam sejarah Liga Champions, hanya 14 kali tim yang kalah dengan selisih tiga gol atau lebih di leg pertama mampu membalikkan keadaan di leg kedua.

Meski demikian, ada satu catataan yang memberi secercah haraapan, dan namanya adalah Massimiliano Allegri.

Pada 2019, Juventus yang saat itu dilatih Allegri kalah 2-0 dari Atlético Madrid di leg pertama babak 16 besar.

Di Turin, mereka bangkit dan menang 3-0 untuk lolos dramatis.

Spalletti tentu tak keberatan meniru skenario itu. Setidaknya, kemenangan tiga gol sudah cukup untuk memaksa laga ke perpanjangan waktu.

Di luar lapangan, bayang-bayang polemik Derby d’Italia juga belum sepenuhnya reda.

0 Komentar