TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Angka itu bulat. Rapi. Meyakinkan. 84,14 persen. Itulah indeks kepuasan masyarakat Kota Tasikmalaya yang disebut Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan.
Angka yang, menurut pemerintah kota, menandakan pelayanan publik kini lebih responsif. Sekilas, ini kabar baik.
Namun ketika ditelusuri asal-usulnya, muncul satu perumpamaan lama: jeruk makan jeruk.
Baca Juga:BPKAD Kota Tasikmalaya Bantah Pilih-Pilih Pencairan Pekerja, Sebut Sesuai Arahan Pimpinan!Pemkot Tasikmalaya Lamban dan Kurang Taktis: RSUD Dewi Sartika Dua Tahun Berdiri, BPJS Tertahan Ventilator
Sebab Pemerintah Menilai Pemerintah. Angka 84,14 persen itu ternyata berasal dari Elektronik Survei Kepuasan Masyarakat (E-SKM) yang dilakukan di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pelayanan publik Kota Tasikmalaya.
Yang menyusun surveinya adalah Bagian Organisasi Setda Kota Tasikmalaya. Yang disurvei adalah masyarakat yang datang ke OPD. Yang mengklaim hasilnya adalah pemerintah kota.
Lengkap sudah satu lingkaran. Bukan berarti salah. Tidak juga otomatis keliru. Tapi menarik untuk dicermati.
Survei dilakukan dengan dua cara. Format digital disiapkan bagi warga yang terbiasa dengan teknologi. Sementara kuesioner manual disediakan bagi mereka yang belum akrab dengan layar sentuh.
Semua jawaban itu dihimpun. Diolah. Dikonversi ke angka. Hasil akhirnya sama: kepuasan masyarakat diklaim tinggi. Seolah birokrasi Kota Tasikmalaya telah naik kelas. Dari sekadar melayani menjadi “melayani dengan senyum data.”
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menyebut capaian tersebut sebagai hasil kerja bersama seluruh jajaran pemerintahan, di tengah keterbatasan anggaran dan dinamika birokrasi.
“Alhamdulillah kita bergerak dan berdampak. Satu tahun memang bukan waktu panjang, tapi dalam waktu singkat itu ada beberapa program yang terasa oleh masyarakat,” ujar Viman, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga:Pilih-Pilih Pencairan Uang di Tengah Kas yang Masih Tebal di Kota Tasikmalaya!Telat 32 Menit, Wali Kota Tasikmalaya Kembali Ngantor Usai Tipes: Apel Pagi Jadi Panggung Minta Maaf
Kalimatnya terdengar wajar. Optimistis. Seperti kepala daerah pada umumnya. Namun angka selalu punya sifat yang sama: tenang. Ia tidak mengeluh.
Ia tidak mengantre. Ia tidak menunggu dipanggil.
Sementara pengalaman warga di loket-loket pelayanan sering kali tidak setenang itu. Di situlah letak pertanyaannya. Bukan pada boleh atau tidaknya pemerintah menilai diri sendiri. Melainkan pada sejauh mana senyum data benar-benar sejalan dengan wajah warga yang pulang dari kantor pelayanan.
84,14 persen kini sudah diumumkan. Sudah menjadi klaim. Sudah menjadi bahan presentasi. Sisanya, seperti biasa, akan diuji bukan oleh survei—melainkan oleh hari-hari biasa di Kota Tasikmalaya.
