“Siapa yang tidak pernah berbuat salah? Sejak tahun 1950-an sudah ada pemain terkenal karena aksi seperti ini. Ini bukan peristiwa luar biasa, melainkan hal yang, menurut saya, cukup biasa. Bisa disesalkan, tetapi juga dipengaruhi situasi lain,” bebernya.
Tak berhenti di situ, Marotta bahkan menyeret kembali memori laga panas musim 2020/2021.
Ia menyinggung pertandingan Juventus kontra Inter pada 2021, ketika wasit Gianpaolo Calvarese memberikan penalti kepada Juventus akibat dugaan diving Juan Cuadrado.
Baca Juga:Spalletti Tak Menyangka Chivu Sebut Pemain Juventus BodohMarotta Tuding Media Terlalu Berlebihan Hakimi Bastoni: Ingatkan Duel Juventus vs Inter di Tahun 2021
“Jika kita berbicara soal diving, saya ingin mengingatkan Juventus-Inter 2021. Saat itu ada penalti untuk Juventus akibat simulasi yang kemudian diakui sebagai kesalahan. Kemenangan itu membawa Juventus lolos ke Liga Champions, yang nilainya mencapai 60-70 juta euro,” tegas Marotta.
Dengan kurs saat ini, jumlah tersebut setara sekitar Rp1,02 triliun hingga Rp1,19 triliun—angka yang tentu sangat signifikan bagi klub mana pun.
Pernyataan Sala dan Marotta memperjelas bahwa polemik ini bukan sekadar soal satu insiden di lapangan, melainkan juga menyangkut rivalitas panjang dan sensitivitas tinggi antara dua raksasa Italia.
Di tengah panasnya atmosfer, publik kini menunggu apakah kontroversi ini akan mereda atau justru semakin membara pada pertemuan berikutnya.
Yang pasti, insiden Kalulu-Bastoni telah berubah menjadi perdebatan nasional—melibatkan tokoh sepak bola, pejabat publik, hingga memori lama yang kembali diungkit.
