RADARTASIK.ID – Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, melontarkan kekecewaannya kepada pelatih Inter Milan jelang leg pertama playoff Liga Champions melawan Galatasaray.
Namun bukan hanya soal taktik dan kesiapan tim yang menjadi sorotan, melainkan juga polemik panas usai Derby d’Italia kontra Inter akhir pekan lalu.
Bianconeri telah bertolak ke Istanbul dengan membawa optimisme tinggi untuk mencuri poin di kandang lawan.
Baca Juga:Marotta Tuding Media Terlalu Berlebihan Hakimi Bastoni: Ingatkan Duel Juventus vs Inter di Tahun 2021Presiden Inter Milan Dituduh Mencemari Serie A: Petinggi Juventus Tahu Cara Kerja Marotta
Khephren Thuram masuk dalam rombongan skuad, sementara Jonathan David dipastikan tidak tersedia meski ikut dalam perjalanan.
Di tengah fokus menghadapi atmosfer panas Turki, Spalletti tetap harus menjawab pertanyaan soal insiden yang melibatkan Pierre Kalulu dan Alessandro Bastoni dalam laga kontra Inter.
Dalam keterangannya kepada Sky Sport, Spalletti mengaku masih menyimpan rasa kecewa, terutama terhadap komentar pelatih Inter, Cristian Chivu.
Ia menilai pernyataan Chivu yang menyebut Kalulu dengan istilah merendahkan sebagai sesuatu yang tak pantas.
“Saya tidak bisa melatih segala hal yang muncul dari situasi tertentu di lapangan, tetapi saya bisa membentuk para pemain agar lebih kuat secara mental,” ujar Spalletti.
“Yang membuat saya kecewa, seorang anak baik seperti Kalulu, setelah mengalami dua ketidakadilan besar, justru disebut bodoh oleh pelatih lawan,” lanjutnya.
Menurutnya, komentar tersebut berlebihan dan tidak mencerminkan sikap saling menghormati antar pelatih.
Baca Juga:Ignazio La Russa Ngamuk Inter Dituding Dapat Bantuan Wasit untuk Kalahkan Juventus: “Kami Bukan Juve Baru”Gianluca Rocchi Tuding Bastoni Pemain yang Suka Menipu Wasit
Spalletti bahkan menegaskan, jika ingin, ia pun bisa membuka ruang untuk mengomentari pemain Inter. Namun ia memilih menahan diri.
“Saya mengenal Cristian dengan baik. Saya yakin dia sadar telah melakukan kesalahan,” tambahnya.
Terlepas dari polemik tersebut, fokus utama Juventus kini adalah duel penting di Liga Champions.
Spalletti menggambarkan atmosfer pertandingan seperti berada “di bawah matahari yang tepat di atas kepala”, sebuah metafora tentang tekanan besar yang tak memberi ruang untuk bersembunyi.
Ia menegaskan bahwa timnya harus siap memikul tanggung jawab penuh, sebab setiap keraguan akan dimanfaatkan lawan.
Menariknya, Spalletti justru melihat sisi positif dari laga kontra Inter. Ia menilai timnya tampil lebih solid ketika bermain dengan sepuluh pemain.
