Satu Tahun Kerja Versi Wali Kota Tasikmalaya yang Diunggah!

satu tahun viman-diky
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi bersama wakilnya, Diky Candranegara.
0 Komentar

Infrastruktur masuk dalam Tasik Nyaman.

Data yang ditulis cukup presisi, 12,4 kilometer jalan diperbaiki. 2.000 PJU dioptimalkan. Angka-angka ini biasanya paling mudah dicek warga. Tinggal keluar rumah.

Terakhir, Tasik Melayani. Indeks kepuasan masyarakat dicatat di angka 84,14. Angka yang terlihat meyakinkan. Menandakan pelayanan yang, menurut mereka, lebih responsif.

Angka memang selalu rapi. Tapi pengalaman warga di loket-loket pelayananlah yang menjadi penentu sesungguhnya. Baru Awal, Kata Mereka

Baca Juga:Setelah Batukaras, Jalan Scooter Tasikmalaya Club (STC) Tidak Pernah Lurus!Di Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Jalan Keluar yang Sebenarnya Ada (Part 5-Habis)

Di ujung unggahannya, Viman menulis kalimat penutup: Satu tahun ini barulah awal.

Kota Tasik, katanya, harus terus berlari. Lebih maju. Lebih sejahtera.

Unggahan itu bukan sekadar laporan. Ia juga pesan, bahwa kepemimpinan hari ini tak hanya diuji di ruang sidang, tapi juga di kolom komentar.

Dan publik Tasikmalaya—seperti biasa—akan membaca, menilai, lalu membandingkan, antara yang ditulis, dan yang benar-benar dirasakan.

Unggah tersebut pun mendapatkan komentar. Bukan karena dipoles. Tapi karena mungkin jujur.

Ada yang menyemangati dengan bahasa Sunda yang lugas. “Gassss pak wali, ulah asa asa deui.” Artinya sederhana, lanjutkan, jangan ragu. Dorongan tanpa teori.

Komentar itu bahkan diberi tanda hati oleh sang pembuat unggahan. Tanda kecil, tapi bermakna: dibaca.

Lalu datang balasan yang lebih panas:

“Gass pool tanpa rem.” Kalimat khas anak motor. Penuh semangat. Tapi juga menyimpan doa: jangan sampai kebablasan.

Baca Juga:Di balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Pejabat yang Selalu Selamat (Part4)Wakil Rasa Wali Kota!

Namun kolom komentar tak pernah satu warna. Seorang warganet lain menyelipkan sindiran halus, dibungkus tawa.

“Tapi kunaon pa di datangi guru madrasah bapa te ayaaaa.” Kenapa guru madrasah tidak didatangi? Pertanyaan yang terdengar bercanda, tapi sesungguhnya serius.

Ada pula harapan panjang, ditulis rapi, nyaris seperti surat terbuka. Tasik yang lebih resik. Warga yang lebih sadar. Sampah diolah dari rumah. Tidak dibuang sembarangan. Ini bukan pujian. Ini permintaan kerja sama. Karena kota tidak bisa bersih hanya dengan wali kota.

Lalu komentar terakhir terasa paling tajam. Berbahasa Sunda. Panjang. Penuh perbandingan. Alat peraga, kata dia, urusan pusat. Tinggal menyalurkan. Tapi jogging track? Pedagang? Parkiran?

0 Komentar