TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Membaca unggahan itu pelan-pelan. Di layar ponsel. Bukan di baliho. Bukan di laporan pertanggungjawaban. Tapi di media sosial pribadi Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan.
Caption-nya sederhana tapi penuh makna. Pengabdian selama satu tahun memimpin Kota Tasikmalaya.
Tidak banyak wali kota yang memilih cara seperti ini, memaparkan kinerja dirinya sendiri. Langsung. Dengan moderator. Tanpa podium. Tanpa tepuk tangan.
Baca Juga:Setelah Batukaras, Jalan Scooter Tasikmalaya Club (STC) Tidak Pernah Lurus!Di Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Jalan Keluar yang Sebenarnya Ada (Part 5-Habis)
Satu tahun kepemimpinan Viman Alfarizi bersama wakilnya, Diky Candra, diklaim sebagai tahun meletakkan pondasi.
Bukan tahun panen. Belum. Masih menyiapkan tanah. Membersihkan batu. Meratakan jalan.
Lalu apa saja pondasi yang mereka sebut sebagai kemajuan? Mari kita simak versi Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Viman menerangkan tentang re-prioritas. Kata yang sering dipakai pejabat saat uang terbatas dan kebutuhan tak ada ujungnya.
Setiap rupiah, katanya, harus fokus pada manfaat nyata.
Manfaat nyata versi Viman-Diky mulai terlihat di sektor pendidikan.
Program Tasik Pintar disebut telah menuntaskan pembangunan ruang kelas baru dan rehabilitasi ruang belajar, dari PAUD sampai SMP.
Ada juga lebih dari 2.000 paket perlengkapan sekolah dan alat peraga yang disalurkan.
Bagi orang tua murid, manfaat nyata seringkali sesederhana, anaknya tidak belajar di kelas bocor.
Tasik Religius dan Hafiz dari Kelurahan
Baca Juga:Di balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Pejabat yang Selalu Selamat (Part4)Wakil Rasa Wali Kota!
Tasikmalaya adalah Kota Santri. Itu identitas lama. Tapi Viman ingin memberi nama baru. Tasik Religius.
Lewat program Si Ohan, lahirlah hafiz-hafiz dari tingkat kelurahan. Bukan dari pesantren besar saja. Dukungan juga diberikan kepada 15.000 santri.
Angkanya ditulis rapi. Tinggal publik yang menilai, apakah dampaknya terasa atau sekadar tercatat.
Kemudian Program Tasik Gemas menyasar isu yang tidak selalu viral: gizi.
Intervensi dilakukan pada balita dan ibu hamil. Program yang tidak mudah difoto. Tidak spektakuler. Tapi menentukan masa depan kota lima belas tahun ke depan.
Lingkungan pun disentuh lewat Tasik Resik. TPU Ciangir ditata dan dikelola lebih optimal. Sampah pun, rupanya, perlu tata kelola yang baik.
Ekonomi digerakkan lewat Tasik Pelak. Pelaku koperasi dan UMKM dilatih. Diberdayakan. Diharapkan naik kelas.
