Ia mengapresiasi dukungan DIPO Tasikmalaya yang dinilainya konkret dan tepat sasaran.
“Setelah juara di Jawa Barat, target kami juara di Liga 4 Nasional dan lolos Liga 3 Nusantara. Dukungan seperti ini sangat membantu perjuangan kami,” tegasnya.
Ecep juga mengungkapkan saat ini Persikotas telah memiliki sekitar 10 sponsor dengan kategori berbeda-beda.
Baca Juga:Pesta Gol di Stadion Wiradadaha, Persikotas FC Panaskan Mesin dengan Skor Setengah LusinSaat Mahasiswi Diminta Turun dari Diskursus oleh Budi Mahmud Saputra!
Namun, ia berharap semakin banyak pihak di Kota Tasikmalaya yang tergerak ikut membantu klub kebanggaan daerah.
Dalam suasana yang penuh nuansa kekeluargaan, Ecep menyebut Persikotas dibangun bukan hanya dengan uang, tetapi dengan pengorbanan waktu, tenaga, dan emosi banyak orang.
“Separuh ini bisnis dan sport, separuh lagi adalah keluarga. Banyak pengurus yang pekerjaannya terbengkalai karena mengurus Persikotas. Tapi semua dilakukan karena panggilan nurani sebagai putra daerah,” jelasnya.
Ia bahkan menyelipkan filosofi waktu Yunani kuno: kronos dan kairos. Menurutnya, Persikotas kini memasuki fase kairos—fase emas yang harus dimanfaatkan secara efektif.
“Dulu kita di fase kronos, fase lelah dan berdarah-darah. Sekarang kita masuk fase efektif. Waktu emas Persikotas. Dan di waktu kairos inilah kami dipertemukan dengan DIPO Tasikmalaya,” katanya.
Ke depan, Ecep juga membuka peluang kolaborasi lanjutan, termasuk pengembangan akademi Persikotas yang kini masuk tiga besar Jawa Barat serta rencana menginisiasi turnamen Piala Persikotas Raya.
Dengan satu unit bus dan segudang harapan, Persikotas kini tak hanya bergerak di lapangan, tapi juga di jalan raya. Kota Tasikmalaya kembali membuktikan, sepak bola bukan sekadar soal skor akhir, tapi soal siapa yang mau ikut mendorong dari belakang—meski hanya dengan satu setir dan empat roda. (rezza rizaldi)
