Di sanalah liwet digelar. Menu sederhana: ikan mujair goreng, telur dadar, nasi liwet, lalaban, sambal. Tapi suasananya luar biasa. Hujan rintik. Udara dingin. Makan pun terasa naik dua kali lipat kenikmatannya.
Romantis—kalau istilah itu boleh dipakai untuk sekelompok pria berjaket tebal dan tangan berminyak oli.
Mang Uje menjadi pusat perhatian. Makannya tidak berhenti. Dari singgah pertama sampai kedua. Lahap. Konsisten. Seolah ingin memastikan tenaga benar-benar terisi. Ada yang bercanda: berat badannya ikut naik seiring kilometer perjalanan.
Baca Juga:Di Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Jalan Keluar yang Sebenarnya Ada (Part 5-Habis)Di balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Pejabat yang Selalu Selamat (Part4)
Perjalanan dilanjutkan. Jalan berkelok menunggu di depan. Bukan sekadar belok kiri dan kanan. Tapi tikungan panjang yang menipu. Naik turun seperti garis tangan seorang peramal.
Tanjakan datang tanpa basa-basi. Tajam. Panjang. Memaksa mesin kecil bekerja lebih keras dari biasanya. Gas ditarik pelan tapi yakin. Kopling dilepas dengan sabar.
Kecepatan turun drastis. Hampir merayap. Tapi di situlah rasanya. Vespa bukan soal cepat. Ia soal bertahan.
Asap tipis keluar dari knalpot. Aroma bensin bercampur udara pegunungan. Di belakang, suara mesin saling menyahut. Tidak ada yang menyalip sembarangan. Semua paham: satu kesalahan kecil bisa berujung dorong bersama.
Tikungan demi tikungan dilewati. Setiap belokan seperti ujian mental. Tapi ketika tanjakan berhasil ditaklukkan, ada kepuasan yang sulit dijelaskan. Senyum di balik helm. Acungan jempol. Tawa kecil—karena sadar, “tadi hampir nggak kuat.”
Di puncak, jalan melandai. Angin makin dingin. Pemandangan terbuka. Vespa-vespa berhenti sejenak. Berbaris rapi. Mesinnya masih berdetak pelan. Seperti para pejuang tua yang baru selesai perang kecil.
Touring ini bukan tentang Batukaras. Bukan pula tentang pulang. Ini tentang jalan yang berliku. Tentang mesin kecil yang dipaksa besar. Dan tentang kebersamaan menaklukkan tanjakan yang tak pernah lurus.
Vespa selalu begitu.
Pelan. Berat. Tapi penuh cerita untuk dibawa pulang. (red)
