TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Usai acara munggahan selesai di Pantai Batukaras, Scooter Tasikmalaya Club—STC—belum benar-benar ingin pulang.
Mereka duduk melingkar. Helm dibuka. Rokok dinyalakan. Air kopi diseruput pelan. Ada satu hal yang selalu dibicarakan sebelum mesin kembali dihidupkan: jalur pulang.
Diskusi kecil pun terjadi. Ada yang mengusulkan jalur cepat. Ada yang memilih jalur aman. Tapi akhirnya, seperti sudah disepakati tanpa voting resmi, keputusan jatuh ke satu nama yang membuat mata langsung berbinar: jalur Salopa.
Baca Juga:Di Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Jalan Keluar yang Sebenarnya Ada (Part 5-Habis)Di balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Pejabat yang Selalu Selamat (Part4)
Rutenya panjang dan tidak ramah. Parigi, Langkap Lancar, Cigugur, Singkup, Cineam, Manonjaya. Jalur berkelok. Tanjakan panjang. Dan otomatis turunan sangat tajam. Vespa diuji bukan cuma mesinnya, tapi juga kesabaran pengendaranya.
Sebelum berangkat, doa kembali dipanjatkan. Kali ini dipimpin H Abah Yana, sang guide tour. Sosok senior yang tenang. Doa itu singkat. Tapi cukup. Karena di Vespa, keyakinan sering kali sama pentingnya dengan bensin.
Rombongan pun bergerak. Ada Ringgo. Sosok yang membuat perjalanan tak pernah sepi tawa. Mulutnya ringan. Humornya spontan. Kelincahannya di atas Vespa patut diacungi jempol. Wajar. Sehari-hari ia pemilik bengkel khusus Vespa di Cikalang, Kota Tasikmalaya. Mesin dan Ringgo sudah lama saling memahami.
Ada Kang Asep Saeful Efendi yang setia mengawal. Ada Mang Uje yang sibuk memetakan jalan—kadang lebih percaya insting daripada GPS. Ada Enan Suherlan, Ketua STC, yang memilih posisi di tengah. Tidak kencang. Tidak lambat. Seperti pemimpin seharusnya: memastikan semua tetap utuh.
Mang Ozon tampil agresif. Vespa Excel 150 cc-nya melaju penuh percaya diri. Dan tentu saja, ada Rahmat Slamet—yang hampir selalu ketinggalan. Alasannya klasik: bagian sapu bersih. Ia memastikan tidak ada yang tertinggal… termasuk dirinya sendiri.
Perhentian pertama di kebun karet daerah Campaka, Cimindi, Cigugur. Rindang. Dingin. Sunyi. Vespa beristirahat. Pengendaranya pun demikian.
Perhentian kedua di rest area Singkup, Langkap Lancar. Suhunya sekitar 23 derajat Celsius. Dinginnya mirip Jahim Ciamis atau Puncak Bogor. Tepatnya di Tugu Wisata Religi Desa Bojong Kondang, Kecamatan Langkap Lancar, Kabupaten Pangandaran.
