Saat Mahasiswi Diminta Turun dari Diskursus oleh Budi Mahmud Saputra!

peran mahasiswi Himi Persis dalam pembangunan daerah
Budi Mahmud Saputra, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi PAN menghadiri Musda X Himpunan Mahasiswi Himi Persis Tasikmalaya Raya, Senin 16 Februari 2026. (Istimewa for Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada yang menarik pagi itu di Bale Morosono, Jamanis, Tasikmalaya. Bukan karena bangunannya. Bukan pula karena spanduk Musda X Himpunan Mahasiswi Himi Persis Tasikmalaya Raya yang terbentang rapi. Yang menarik justru kalimat-kalimat yang dilontarkan di awal acara. Pelan, tapi menggigit.

Budi Mahmud Saputra berbicara. Ia tidak memulai dengan teori. Tidak juga dengan angka statistik. Ia langsung menyentuh satu kata yang sering terdengar sederhana, tapi berat jika dipikirkan sungguh-sungguh: bakti.

Perempuan, kata Budi Mahmud Saputra (BMS), hari ini tidak lagi bisa dipersempit ke ruang domestik. Zaman sudah bergeser. Tantangan juga. Dan kader-kader Himi Persis—yang mayoritas perempuan—tidak sedang disiapkan untuk menjadi penonton pembangunan.

Baca Juga:APBD dan Antrean Stasiun Kereta Api: Ujian Transparansi di Kota TasikmalayaPencairan Uang di Kota Tasikmalaya yang Datangnya Harus Menunggu Isyarat!

Mereka sedang disiapkan untuk menjadi pelaku. “Perempuan berilmu adalah kekuatan pembangunan,” kira-kira begitu pesan yang berulang kali ditegaskan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi PAN itu dalam keynote speech-nya, Senin, 16 Februari 2026.

Ia menyebut Himi Persis bukan sekadar organisasi mahasiswi. Ia adalah dapur kaderisasi. Tempat menempa karakter. Tempat mengasah keilmuan. Dan, yang sering dilupakan, tempat menumbuhkan keberanian untuk terlibat langsung dalam persoalan masyarakat.

BMS seperti sedang mengingatkan: ilmu tanpa bakti akan berhenti di kepala. Bakti tanpa ilmu akan tersesat di jalan.

Karena itu, ia menolak sikap cepat puas. Mahasiswi, katanya, tidak boleh merasa selesai hanya karena telah mengikuti Musda, diskusi, atau forum-forum intelektual. Keilmuan harus terus dimatangkan. Jejaring harus diperluas. Dan kontribusi harus bisa dirasakan—bukan hanya dibicarakan.

Zaman, menurutnya, tidak lagi memberi ruang bagi organisasi mahasiswi yang gemar berhenti di diskursus. Tantangan sosial terlalu nyata untuk dihadapi dengan jargon semata. Literasi harus kuat. Kemampuan advokasi harus diasah. Kolaborasi lintas sektor menjadi keharusan, bukan pilihan.

Himi Persis, kata BMS, seharusnya hadir sebagai mitra strategis pembangunan daerah. Bukan hanya pengkritik dari kejauhan, tapi pemberi gagasan yang relevan dan penggerak perubahan yang nyata.

Pidato itu tidak menggurui. Lebih seperti cermin. Membuat peserta Musda X bercermin pada satu pertanyaan sederhana: untuk apa ilmu yang sedang diperjuangkan ini?

0 Komentar