CIAMIS, RADARTASIK.ID — Kabut tipis masih menggantung di kaki Gunung Sawal ketika belasan orang melangkah menyusuri Dusun Banjar, Desa Kertamandala, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.
Mereka adalah tim Nunia Integrated Farming (NIF) yang tidak sekadar berjalan-jalan. Mereka sedang menanam harap: tentang kopi, tentang ternak, dan tentang masa depan desa.
Di lahan seluas lima hektare yang dikelola NIF, kegiatan tadabur alam digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu (14–15/2/2026).
Baca Juga:Cerita Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra Naik Kereta untuk Lamaran Anak: Anti Aji MumpungPawai Tarhib Ramadan PKS Kota Tasikmalaya: dari Syiar hingga Bagi-bagi Jadwal Imsakiyah di Jalanan
Di sinilah konsep pertanian dan peternakan terpadu bukan hanya teori, tetapi hidup berdampingan dengan alam.
Manager Produksi NIF, Dasma ST, menyebut kegiatan ini sebagai ruang belajar yang dibungkus perjalanan.
“Peserta melihat langsung kondisi ternak, dari udang pakan, kambing, domba, bebek sampai ayam. Mereka diskusi, tanya jawab, dan mengenal bagaimana sistem integrated farming berjalan,” katanya.
Siang hari diisi dengan penelusuran kandang dan kebun. Malamnya, suasana berubah menjadi hening. Kajian menyambut Ramadan digelar di kawasan puncak Mahoni.
Lampu temaram, udara dingin, dan percakapan tentang makna syukur menyatu dengan aroma kopi dan alam Panjalu.
Keesokan harinya, langkah mereka diarahkan ke lereng-lereng yang selama ini hanya ditumbuhi semak. Di situlah, sekitar seribu bibit kopi disiapkan untuk ditanam secara simbolis.
“Ini upaya menghidupkan lahan tidur. Ke depan, kopi akan terus digalakkan di kawasan atas dan sekitarnya,” ujar Dasma.
Baca Juga:Rakorwil KAHMI dan Kegelisahan dari Timur Jawa Barat!Cara Scooter Tasikmalaya Club Menyambut Ramadan: Jalan Berkelok dan Racikan Entog!
Ia mengingatkan bahwa Panjalu, khususnya wilayah Tabraya, pernah dikenal sebagai penghasil kopi yang bahkan menembus pasar luar negeri.
Waktu memang menggeser pamor itu, tetapi tanahnya tetap sama: subur dan setia menunggu diolah kembali.
“Pak Asep (Asep Danang, owner NIF) ingin menghidupkan lagi kopi Panjalu supaya identitas itu muncul kembali,” ucapnya.
Perjalanan tadabur alam tidak berhenti di kebun kopi.
Rombongan melanjutkan langkah ke Curug Tabraya, air terjun yang dulu sempat diresmikan Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum kala itu namun kini nyaris sunyi dari sentuhan pembangunan.
“Potensinya besar, tapi kurang terekspos. Kami ingin menggugah perhatian para pemangku kebijakan agar potensi daerah seperti curug dan kopi bisa dimaksimalkan,” kata Dasma.
