Di Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Jalan Keluar yang Sebenarnya Ada (Part 5-Habis)

Lapang padel tasik
Ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Masalah lapangan padel ini sebetulnya tidak rumit. Yang membuatnya rumit adalah kebiasaan lama yang terus dipelihara. Solusinya pun tidak harus revolusioner. Cukup konsisten.

Langkah pertama justru paling sederhana: kejelasan sejak awal. Pejabat harus berani mengatakan dua kata yang selama ini dihindari—boleh atau tidak. Tidak perlu abu-abu. Tidak perlu bahasa isyarat. Tidak perlu tafsir ganda.

Jika belum boleh, katakan belum boleh.

Jika syarat belum lengkap, sebutkan apa saja yang kurang. Dengan begitu, pengusaha tidak dipaksa menebak-nebak.

Baca Juga:Di balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Pejabat yang Selalu Selamat (Part4)Wakil Rasa Wali Kota!

Langkah kedua: batas waktu yang masuk akal. Perizinan yang tidak punya tenggat hanya akan melahirkan kecurigaan.

Proses boleh berlapis, tapi waktunya harus jelas.

Ketika izin bisa dipastikan selesai dalam hitungan tertentu, dorongan untuk “jalan duluan” akan berkurang dengan sendirinya.

Langkah ketiga: pengawasan sebelum bangunan berdiri. Bukan setelah ramai. Bukan setelah usaha berjalan. Pengawasan di awal memang tidak populer, tapi jauh lebih murah daripada penertiban di akhir.

Langkah keempat: satu pintu yang benar-benar satu pintu. Bukan satu pintu di papan nama, tapi banyak pintu di praktiknya.

Ketika pengusaha cukup datang ke satu meja, ruang abu-abu akan menyempit.

Langkah kelima—yang paling penting: keberanian politik. Keberanian untuk tidak menyelamatkan semua orang. Keberanian untuk menegakkan aturan meski tidak populer.

Tanpa itu, semua solusi hanya akan jadi catatan rapat. Padel hanyalah cermin. Ia memantulkan wajah sistem perizinan kita apa adanya. Kalau cermin itu retak, yang perlu dibenahi bukan cerminnya, tapi wajah yang dipantulkan.

Baca Juga:Di Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Risiko Hukum Menunggu di Tikungan (Part 3)Masalah Kota Ini Bernama Komunikasi!

Kota ini butuh investasi. Tapi lebih dari itu, kota ini butuh kepastian. Karena pengusaha yang sehat tidak lahir dari celah, melainkan dari aturan yang jelas dan dijalankan dengan konsisten.

Jika pemerintah daerah berani memulai dari sini, episode tentang padel ini tidak perlu diulang. Dan kota ini akhirnya bisa bermain di lapangan yang sama—tanpa garis abu-abu. (red)

0 Komentar