TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Pemandangan tak biasa terlihat di Stasiun Kereta Api Kota Tasikmalaya, Sabtu malam (14/2/2026).
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra mengantre seperti penumpang lain di pintu keberangkatan.
Tidak ada ajudan, tidak ada rombongan besar, hanya koper, sang istri Rani Permayani, putranya Diffa M Chandra, dan calon menantunya, Putri.
Baca Juga:Pawai Tarhib Ramadan PKS Kota Tasikmalaya: dari Syiar hingga Bagi-bagi Jadwal Imsakiyah di Jalanan Rakorwil KAHMI dan Kegelisahan dari Timur Jawa Barat!
Tujuan perjalanan mereka adalah ke Surabaya untuk acara lamaran sang putra. Diky menegaskan keberangkatan itu dilakukan secara sederhana dan efisien.
“Iya hanya bertiga, saya, istri, Diffa dan calon mantunya,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Minggu (15/2/2026).
Menurut Diky, keluarga besar tidak ikut serta karena sebelumnya sudah beberapa kali bertemu dengan keluarga calon menantu.
Ia menilai, keseriusan tidak selalu harus diukur dari panjangnya rombongan.
“Insyaallah tidak mengurangi hormat dan keseriusan kami bertemu keluarga calon mantu,” katanya.
Diky juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kota Tasikmalaya karena pada hari libur ini ia tidak bisa menghadiri sejumlah agenda.
“Mohon doanya semoga semua berjalan lancar. Maaf agenda di Kota Tasikmalaya hari libur ini tidak bisa dihadiri wawali. Semoga tidak mengurangi keberkahan kita semua,” ucapnya.
Dalam pernyataannya, Diky menyinggung kebiasaan “aji mumpung” yang kerap muncul ketika seseorang menduduki jabatan publik.
Ia menilai, gaya hidup pimpinan akan menjadi contoh bagi bawahannya.
Baca Juga:Cara Scooter Tasikmalaya Club Menyambut Ramadan: Jalan Berkelok dan Racikan Entog!Khitan Eksklusif Gratis di Kota Tasikmalaya, Dokter dari Bandung Jemput Bola ke Parhon Timur
“Kalau pimpinan pola hidupnya wah dan mewah, anak buahnya juga akan ikut wah dan mewah. Tapi kalau pimpinan memberi contoh hidup sederhana, siap berkorban untuk warga, Insyaallah bawahannya juga akan mengikuti,” tegasnya.
Ia mengakui tidak sedikit aparatur sipil negara (ASN) yang ingin membantu secara pribadi karena merasa iba melihat kondisinya yang sederhana. Namun, ia menolak bantuan tersebut.
“Yang harus dikasihani itu bila saya memaksakan kehendak dengan memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Kalau itu saya lakukan, berarti saya sedang membusukkan diri sendiri, dunia maupun akhirat,” ungkapnya.
Diky menambahkan, pernikahan adalah hal yang suci dan tidak boleh dicampuri dengan uang yang tidak jelas asal-usulnya.
