RADARTASIK.ID – Duel antara Inter Milan dan Juventus bukan sekadar soal gengsi di lapangan.
Dalam satu dekade terakhir, Derby d’Italia juga menjelma menjadi pertarungan neraca keuangan, sponsor, utang, hingga strategi bisnis.
Laga di Stadion Giuseppe Meazza, Minggu (15/2) pukul 02.45 WIB, memang krusial untuk perburuan Scudetto dan tiket Liga Champions.
Baca Juga:Inter Milan vs Juventus: Duel Harga Diri Dua Penjaga Gawang yang Akan DibuangSandro Sabatini: AC Milan Masih Bisa Tertawa karena Luka Modric
Namun di balik itu, ada duel dua model kepemilikan besar: Inter kini dikuasai dana asal Amerika Serikat, Oaktree, sementara Juventus berada di bawah Exor milik keluarga Agnelli-Elkann.
Titik balik persaingan korporasi ini bisa ditarik ke 2018, saat Beppe Marotta meninggalkan Turin dan bergabung dengan Inter.
Sejak itu, persaingan meluas dari lapangan ke laporan keuangan.
Pendapatan: Inter Kini Unggul
Jika menilik sejarah, Juventus sempat menjadi raja di Italia.
Pada musim 2016/2017, Bianconeri mencatat pendapatan €562 juta (sekitar Rp9,55 triliun), jauh di atas Inter yang “hanya” €262 juta (sekitar Rp4,45 triliun).
Di era Cristiano Ronaldo, pendapatan Juventus bahkan menyentuh €621 juta (sekitar Rp10,56 triliun).
Namun laporan keuangan terbaru per 30 Juni 2025 (musim 2024/2025) menunjukkan perubahan signifikan.
Inter menghasilkan pendapatan: €567 juta (sekitar Rp9,64 triliun), sedangkan Juventus: €529 juta (sekitar Rp8,99 triliun) yang memastikan Nerazzurri unggul.
Lebih impresif lagi, Inter menutup musim dengan laba bersih sekitar €35 juta (sekitar Rp595 miliar).
Baca Juga:Como Diramal Tak Lolos ke Liga Champions oleh Mantan Pemainnya SendiriAlasan Mourinho Tak Bisa Lakukan Selebrasi di Depan Pemain Real Madrid: "Mereka Mr. Champions League”
Sebaliknya, Juventus masih mencatat kerugian €58,1 juta (sekitar Rp987 miliar), meski performa finansialnya membaik dibanding era pasca-pandemi.
Nerazzurri Kuat di Komersial dan Hak Siar
Keunggulan Inter terutama datang dari sektor komersial dan hak siar televisi.
Pendapatan komersial (sponsor dan royalti) Inter mencapai €142,3 juta (sekitar Rp2,42 triliun).
Sementara hak siar TV menyumbang €265 juta (sekitar Rp4,5 triliun), naik drastis dibanding musim sebelumnya.
Di sisi lain, Juventus unggul dalam manajemen jual beli pemain.
Pendapatan dari aktivitas transfer mencapai €110 juta (sekitar Rp1,87 triliun), dengan sekitar €90 juta di antaranya berupa keuntungan modal.
Sebaliknya, dampak penjualan pemain Inter hanya €21,5 juta (sekitar Rp365 miliar), menunjukkan fokus mereka lebih pada stabilitas skuad.
