RADARTASIK.ID – AC Milan meraih kemenangan dramatis 2-1 saat bertandang ke markas Pisa di Arena Garibaldi.
Hasil ini mungkin bukan performa terbaik Rossoneri musim ini, tetapi seperti yang selalu ditekankan pelatih Massimiliano Allegri, yang terpenting adalah tiga poin.
Meski menghadapi tim papan bawah, Milan harus menunggu hingga menit ke-85 untuk memastikan kemenangan.
Baca Juga:Como Diramal Tak Lolos ke Liga Champions oleh Mantan Pemainnya SendiriAlasan Mourinho Tak Bisa Lakukan Selebrasi di Depan Pemain Real Madrid: "Mereka Mr. Champions League”
Setelah sempat unggul lebih dulu lewat gol Loftus-Cheek di babak pertama dan menyaksikan penalti Fullkrug gagal berbuah gol, Rossoneri justru dibuat ketar-ketir ketika Loyola menyamakan kedudukan menjadi 1-1 bagi tuan rumah.
Ketika laga tampak mengarah ke hasil imbang, muncullah momen magis dari Luka Modric.
Gelandang veteran itu mencetak gol penentu kemenangan yang membuat Milan tetap menjaga jarak dari rival sekota, Inter Milan, dengan selisih lima poin.
Kemenangan ini menjadi hasil positif ke-23 secara beruntun bagi Milan.
Selain itu, pekan ini berpotensi menguntungkan mengingat Inter harus menghadapi Juventus, sementara persaingan papan atas juga melibatkan Roma dan Napoli dalam perebutan tiket Liga Champions.
Namun, tidak semua kabar menggembirakan. Di penghujung pertandingan, Adrien Rabiot menerima kartu kuning kedua dari wasit Fabbri dan harus meninggalkan lapangan lebih cepat.
Akibatnya, ia dipastikan absen dalam laga tunda melawan Como pada pertengahan pekan.
Dalam kolom editorialnya di Calciomercato, jurnalis Italia Sandro Sabatini menilai Milan memang tersenyum, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya lebar.
Baca Juga:AC Milan Resmi Lepas Alex Jimenez, Aleksandar Stankovic Tegaskan Hanya Ingin Kembali ke Inter MilanLorenzo Ossola: Bintang Muda AC Milan yang Kalem dan Tak Hanyut oleh Popularitas
“Milan tertawa karena Modric, tersenyum karena hasilnya. Namun itu senyum setengah hati, karena kemenangan di Pisa jelas tidak mengesankan,” tulis Sabatini.
Menurutnya, Milan tampil sangat opak terutama di babak pertama, bahkan nyaris tidak enak ditonton.
Perubahan baru terasa di babak kedua, sebagian berkat masuknya Fullkrug di awal paruh kedua.
Meski demikian, striker tersebut justru gagal memaksimalkan penalti yang diperoleh Pavlovic, sebuah momen yang sempat kembali memadamkan momentum Milan.
Sabatini menilai gol penyama kedudukan Pisa saat itu sepenuhnya pantas dan Milan baru kembali menemukan ritme setelah masuknya Pulisic.
Namun pada akhirnya, hanya lewat kejeniusan Modric—dengan dukungan permainan solid dari Ricci—Rossoneri mampu mengamankan kemenangan.
