TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada yang berbeda pagi itu, Sabtu 14 Februari 2026. Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya tidak hanya dipenuhi doa untuk para pendahulu bangsa. Ia juga menjadi saksi deru pelan mesin-mesin tua yang setia. Vespa.
Scooter Tasikmalaya Club—STC—menggelar munggahan. Tujuannya jauh. Pantai Batukaras. Tapi titik mulainya justru di tempat yang penuh makna. TMP. Seolah ingin menegaskan, sebelum melaju, ada doa. Sebelum bersenang-senang, ada ingatan.
STC dipimpin Enan Suherlan. Klub ini bukan klub yang gemar pamer kecepatan. Yang mereka rawat justru persaudaraan. Motor yang ikut pun bukan motor muda: Vespa Super, Sprint, PS, Excel, OBB. Semuanya punya usia. Dan masing-masing punya cerita.
Baca Juga:Khitan Eksklusif Gratis di Kota Tasikmalaya, Dokter dari Bandung Jemput Bola ke Parhon TimurKetua Majelis Kader Muhammadiyah Kota Tasikmalaya Wafat saat Beri Sambutan Pelantikan
Sekitar pukul 10.00 WIB, setelah doa bersama, kami pun berangkat. Kuda besi mulai dikendalikan. Pelan. Tidak tergesa. Vespa memang tidak pernah suka dipaksa.
Penasehat STC, Rahmat Slamet SH hadir. Hari itu ia sedang libur. Tidak ada jadwal membersihkan sungai di kawasan Gunung Golkar. Biasanya ia rutin menapaki hutan pinus bersama sahabatnya, Mang Iwa. Bukan untuk konten. Bukan untuk sensasi. Hanya untuk menyepi. Untuk menyegarkan kepala dari hiruk pikuk.
Rombongan dikomandoi Mang Ozon. Ketua harian STC. Tubuhnya tinggi besar. Vespa Excel 150 yang ditungganginya tampak kecil di bawahnya. Tapi justru di situlah pesonanya. Ia gigih. Stabil. Dan tahu betul kapan harus melambat.
Bagi Mang Ozon, touring bukan hobi. Itu kewajiban. Minimal sebulan sekali. Katanya, kalau Vespa jarang diajak jalan, yang rusak bukan hanya mesin—tapi rasa kebersamaan.
Touring kali ini terasa istimewa. Bertepatan dengan munggahan menjelang Ramadan. Ajang silaturahmi. Sekaligus ruang berbagi cerita dan memaparkan rencana STC ke depan.
Jalurnya cukup menantang. Berkelok. Kami melewati Pamarican, Cipaku, Langkap Lancar, tembus ke Parigi, lalu Batukaras. Jalan seperti ini justru disukai. Karena di tikungan, Vespa terasa hidup.
Di Langkap Lancar, kami singgah. Sebuah hutan karet. Botram. Makan bersama. Menu utamanya: daging entog.
Baca Juga:Tasikmalaya Economic Forum Sisakan Luka Komunikasi, Tanpa Dihadiri Kepala DaerahMobil Box Penuh Miras Diamankan Polisi, Upaya Selundupkan 1.404 Botol ke Kota Tasikmalaya Gagal Total
Entognya luar biasa. Nikmatnya seperti racikan hotel bintang lima. Entah karena bumbunya. Entah karena kami memang sudah sangat lapar. Ditambah mi goreng, sambal, kerupuk, rempeyek—kenikmatan makan terasa naik tiga kali lipat.
