Tak hanya soal rivalitas, malam itu juga sarat emosi pribadi. Mourinho mengungkap bahwa keluarganya yang jarang hadir di stadion—karena menetap di London—kebetulan berada di tribune saat laga tersebut berlangsung.
“Ketika semua orang masuk ke lapangan setelah gol itu, pikiran pertama saya tertuju pada keluarga saya. Mereka ada di sana malam itu. Itu perasaan yang unik,” katanya.
Bagi Mourinho, kembali menghadapi klub-klub yang pernah memberinya kebahagiaan selalu menghadirkan dilema batin.
Baca Juga:AC Milan Resmi Lepas Alex Jimenez, Aleksandar Stankovic Tegaskan Hanya Ingin Kembali ke Inter MilanLorenzo Ossola: Bintang Muda AC Milan yang Kalem dan Tak Hanyut oleh Popularitas
Ia mengaku sudah merasakan hal serupa saat kembali ke Manchester maupun Milan, meski ada upaya untuk tetap profesional, tetapi emosi sulit sepenuhnya dikendalikan.
“Setiap kali kembali ke tempat di mana saya pernah bahagia, saya selalu berusaha untuk tidak merasakan apa-apa. Tapi itu tidak pernah menjadi situasi yang normal,” ucapnya.
Bagi Mourinho, kemenangan Benfica atas Real Madrid bukan sekadar hasil pertandingan. Itu adalah pertemuan masa lalu dan masa kini, antara profesionalisme dan perasaan pribadi.
Dan di tengah sorak-sorai stadion, Mourinho memilih menahan diri—bukan karena tak bahagia, melainkan karena rasa hormat.
