TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di banyak daerah, jabatan wakil sering hanya pelengkap. Ada. Tapi tidak selalu terasa. Di Kota Tasikmalaya, ada kesan berbeda. Nama Wakil Wali Kota Tasikmalaya itu Diky Candra.
Belakangan, ia lebih sering terlihat. Di panggung-panggung kecil. Di acara-acara yang tidak selalu masuk headline. Bertemu warga. Menyapa. Bicara dengan bahasa yang tidak birokratis.
Sebagian orang menilai, Diky sedang menjalani peran yang tidak tertulis dalam struktur pemerintahan: wakil rasa wali kota.
Baca Juga:Di Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Risiko Hukum Menunggu di Tikungan (Part 3)Masalah Kota Ini Bernama Komunikasi!
Ia bukan pengambil keputusan tertinggi. Ia tahu itu. Tapi ia seperti menjadi indera. Yang mendengar lebih dulu. Yang merasakan kegelisahan lebih awal. Yang menangkap getaran sebelum berubah jadi amarah. Gaya bicaranya membantu.
Sebagai pelawak yang lama hidup di tengah publik, Diky tahu satu hal penting: rakyat tidak selalu ingin penjelasan panjang. Mereka ingin dipahami. Ingin didengar. Kadang cukup ditanggapi dengan senyum dan satu kalimat jujur.
Ia jarang bicara teknis. Anggaran bukan wilayahnya. Detail kebijakan pun bukan panggung utamanya. Tapi ia mengisi ruang lain yang sering kosong: ruang empati.
Itu sebabnya, dalam banyak kesempatan, Diky tampil seperti jembatan. Antara warga dan wali kota. Antara kegelisahan di bawah dan kebijakan di atas.
Apakah itu cukup? Tentu tidak untuk menyelesaikan semua persoalan kota. Tapi dalam situasi komunikasi yang sering tersendat, keberadaan “wakil rasa” menjadi penting.
Ia menurunkan tensi. Mendinginkan suasana. Membuat masalah bisa dibicarakan tanpa teriak. Kota Tasikmalaya hari ini tidak kekurangan program. Tapi sering kekurangan perasaan bahwa pemerintah hadir.
Di situlah Diky Candra berada. Tidak di kursi paling depan. Tapi di antara orang-orang. Mendengar. Merasakan. Lalu menyampaikannya ke atas. Dan mungkin, di zaman politik yang makin keras, peran seperti itu justru yang paling mahal. (red)
