Myftah juga mengingatkan bahwa komunikasi yang kaku di level atas akan berdampak langsung pada pelayanan publik di level bawah.
Jika kritik mahasiswa dan ulama hanya dibalas dengan surat resmi tanpa dialog, maka kesempatan emas pembangunan bisa melayang.
“Kota Tasikmalaya ini punya modal sosial besar: ulama, MUI, parpol, ormas, mahasiswa hadir semua. Tapi jangan sampai kita seperti rumah tangga megah yang penghuninya cuma saling sapa lewat nota dinas,” katanya.
Baca Juga:Doa di Depan Kabah Berlabuh di Kota Tasikmalaya: Dandim Rangkul Ulama dan Yatim, Bukan Sekadar UpacaraTiga Hari Pemeriksaan PKB, Kota Tasikmalaya Himpun Lebih dari Rp203 Juta: Wujudkan Budaya Taat Pajak
Menurutnya, candaan Wakil Wali Kota adalah alarm bagi semua pihak agar ruang dialog dibuka kembali.
Tanpa komunikasi jujur, program sebaik apa pun hanya akan berakhir sebagai wacana—ibarat ikan asin sisa tikus dan peluang yang hilang terbawa angin.
“Kalau sudah terkoneksi tanpa solusi, yang rugi tetap rakyat,” pungkas Myftah. (rezza rizaldi)
