RADARTASIK.ID – Hasil imbang 2-2 melawan Lazio menjadi alarm terbaru bagi Juventus dalam perburuan tiket Liga Champions.
Tambahan satu poin itu membuat posisi Bianconeri semakin terjepit, dengan AS Roma kini menyamai perolehan angka mereka jelang duel langsung di Olimpico pada 1 Maret mendatang.
Laga tersebut berpotensi menjadi penentu arah klasemen akhir musim.
Terlepas dari polemik wasit—yang kembali memicu keluhan seperti saat menghadapi Verona, Lazio di putaran pertama, dan Fiorentina—media Italia menilai problem Juventus musim ini lebih kompleks.
Baca Juga:Pencari Bakat Fenerbahce: Arda Guler Korban Ruang Ganti Real Madrid yang BeracunDiego Simeone Ganggu Rencana Inter Bawa Pulang Anak Dejan Stankovic
Di satu sisi, ada progres. Di sisi lain, ada celah besar yang belum tertutup.
Secara taktik, tim asuhan Luciano Spalletti dinilai mulai memiliki identitas permainan yang jelas.
Juventus tampil lebih proaktif, menunjukkan determinasi tinggi dan mentalitas pantang menyerah.
Beberapa kali mereka mampu mencuri hasil di menit-menit akhir, pengecualian hanya terjadi saat takluk telak dari Atalanta di Coppa Italia.
Namun, pujian itu tak menutup dua persoalan utama: lini depan yang tumpul dan lini belakang yang terlalu mudah kebobolan dalam momen krusial.
Mandul di Depan
Masalah pertama ada di sektor penyerang tengah. Juventus gagal mendatangkan striker murni pada bursa transfer terakhir.
Striker mereka saat ini Jonathan David dan Lois Openda keduanya bukan tipikal nomor sembilan klasik yang cocok dengan filosofi Spalletti.
Baca Juga:Legenda Inter Sarankan Juventus Beli Pemain Seperti Pirlo: Mereka Butuh Gelandang yang Punya IdeAldo Serena: Jonathan David Harus Belajar Mencetak Gol seperti Inzaghi
Sementara itu, masa depan Dusan Vlahovic masih menggantung, dengan kontraknya akan habis pada akhir Juni.
Kondisi ini membuat Juventus kekurangan sosok finisher tajam di kotak penalti.
Mereka kesulitan menciptakan banyak peluang bersih, dan produktivitas gol para penyerang terbilang minim.
Media Italia Calciomercato menyoroti bahwa di antara pemain bintang dan pemain biasa, ada profil “penentu” yang belum dimiliki Juve—seperti yang dilakukan Roma saat merekrut Donyell Malen, yang langsung memberi dampak signifikan.
Ironi di Bawah Mistar
Jika lini depan kurang menggigit, lini belakang justru menghadirkan paradoks berbeda.
Juventus sebenarnya jarang ditekan secara intens di area pertahanan sendiri. Mereka tidak banyak menghadapi tembakan tepat sasaran.
