TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah kondisi Wali Kota Tasikmalaya yang masih menjalani pemulihan kesehatan, dinamika internal Pemerintah Kota Tasikmalaya justru memunculkan kisruh baru: koordinasi yang dinilai berantakan dan komunikasi yang serba mendadak.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, secara terbuka meluapkan kekesalannya terhadap pola disposisi kegiatan yang menurutnya tidak tertata.
Ia menilai kekacauan informasi bukan sekadar mengganggu agenda kerja, tetapi juga berpotensi merusak kredibilitas pemerintah dan mengecewakan masyarakat.
Baca Juga:Sumbatan Komunikasi yang Disebut Alarm untuk Pemerintahan Kota Tasikmalaya: Bukan Sekadar GuyonanDoa di Depan Kabah Berlabuh di Kota Tasikmalaya: Dandim Rangkul Ulama dan Yatim, Bukan Sekadar Upacara
Pernyataan itu disampaikan Diky usai menghadiri pembukaan kejuaraan pencak silat di GOR Mayasari, Jumat (13/2/2026).
Dalam satu hari, ia harus berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Namun, di tengah jadwal yang sudah tersusun, muncul informasi mendadak bahwa ia diminta menghadiri agenda tambahan di lokasi berbeda.
“Saya juga minta media tolong bantu saya. Hari ini saja sudah dua titik. Tapi saya tiba-tiba dapat informasi katanya dari ajudan wali bahwa saya bisa datang ke acara lain. Enggak mungkinlah, badan saya cuma satu,” ujarnya.
Menurut Diky, persoalan ini bukan insiden tunggal.
Beberapa agenda yang semula dijadwalkan dihadiri Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, dialihkan kepadanya karena wali kota masih dalam masa pemulihan akibat tipes atau demam tifoid.
Masalahnya, proses pengalihan kerap dilakukan tanpa komunikasi awal yang jelas dan sistematis.
“Ini bukan soal satu acara. Ada beberapa agenda yang informasinya datang mendadak. Bahkan masyarakat sudah diberi tahu sejak pagi bahwa wakil akan hadir, padahal saya sendiri belum menerima pemberitahuan resmi,” katanya.
Ia mencontohkan, dalam salah satu kegiatan, masyarakat telah diinformasikan sejak pukul 08.00 bahwa wakil wali kota akan datang.
Baca Juga:Tiga Hari Pemeriksaan PKB, Kota Tasikmalaya Himpun Lebih dari Rp203 Juta: Wujudkan Budaya Taat PajakSekolah Berdiri, Jalanya Masih Menggantung: Akses SMAN 11 Kota Tasikmalaya Ujian Negara Hadir
Ironisnya, dirinya baru mengetahui kabar tersebut di hari yang sama, bahkan ketika acara hampir dimulai.
Dalam situasi seperti itu, yang dipertaruhkan bukan hanya jadwal, tetapi kepercayaan publik.
Bagi Diky, persoalan ini menyentuh ranah serius: kredibilitas pemerintahan.
Ketika informasi kehadiran pejabat terlanjur disampaikan ke publik tanpa koordinasi matang, risiko yang muncul adalah kekecewaan masyarakat yang merasa “dijanjikan” kehadiran pejabat.
