TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Matahari siang itu tidak ramah. Panasnya menyengat halaman Mapolres Tasikmalaya Kota, Kamis, 12 Februari 2026. Tapi acara tetap berjalan. Tidak ada yang mundur. Tidak ada yang berteduh terlalu jauh.
Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto S.I.K M. H berdiri di depan. Dipasangi foto ilustrasinya yang terpasang di-background dengan memakai peci. Beberapa payung terbuka. Bukan untuk gaya. Bukan pula sekadar formalitas. Itu isyarat.
Isyarat kearifan lokal. “Sadia Satia Ngajaga.” Ungkapan Sunda itu sederhana. Artinya pun tidak rumit: senantiasa menjaga. Menjaga diri. Menjaga sikap. Menjaga kota. Menjaga kesadaran.
Baca Juga:Di Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya: Pemerintah yang Datang Belakangan (Part2)Izin Belum Tuntas, Sebagian Lapang Padel di Kota Tasikmalaya Diminta Berhenti Beroperasi
Andi tampaknya ingin memulai dari sana. Ia bicara tentang respons cepat. Tentang pelayanan. Tentang CCTV yang langsung terkoneksi ke telepon genggamnya. Tidak perlu birokrasi panjang. Tidak perlu menunggu laporan menumpuk di meja.
“Kemarin ada kecelakaan di Ciawi,” katanya. “Saya pakai pakaian sipil. Angkat-angkat saja.” ujarnya menceritakan.
Tidak ada seragam. Tidak ada kamera. Tidak ada niat untuk terkenal.
“Yang penting masyarakat terlayani.” ungkapnya.
Di halaman itu hadir semuanya. Wakil Wali Kota Tasikmalaya. Forkopimda. TNI AU. Tokoh agama. Sesepuh. Ajengan. Tokoh masyarakat. Pemuda. Akademisi. Pimpinan media. Dan seluruh personal Polres Tasikmalaya Kota. Lengkap. Guyub. Sauyunan.
Andi mengaku sempat khawatir. Acara ini dadakan. Ia baru datang. Kepemimpinan baru selalu mengandung risiko: takut minculak, takut calutak. Takut tidak nyambung.
Ternyata tidak.
“Kita ini pondasi sila kelima, Rumah tidak bisa berdiri sendiri.” tuturnya.
Ia sadar posisinya. Ini kali pertama ia duduk sebagai kapolres. Ia juga sadar bisa sewaktu-waktu pindah. Tapi tanggung jawab tidak bisa dititipkan.
Baca Juga:Kejari Garut Ringkus Tiga Tersangka Kasus Kredit Fiktif BPR BIJ GarutDi Balik Lapangan Padel Kota Tasikmalaya, Ada Bisik-Bisik "Oknum" (Part 1)
Jabatan ini sementara. Mutasi bisa datang kapan saja. Tapi justru di situlah motivasinya.
“Kalau waktunya terbatas, maka yang penting bukan lamanya,” kira-kira begitu maknanya. “Tapi dampaknya.”
Ia tidak melihat keterbatasan waktu sebagai penghalang. Ia melihatnya sebagai dorongan untuk berbuat. Untuk berbakti. Untuk meninggalkan jejak yang terasa, meski tidak selalu terlihat.
