Jawaban tersebut kemudian ditafsirkan sebagian pihak sebagai sinyal terbuka untuk Inter.
Tak ingin isu berkembang liar, Camarda langsung memberikan klarifikasi lewat Instagram.
“Saya tidak menerima jawaban yang saya berikan untuk tidak mengecewakan anak-anak dan sebagai bentuk hormat kepada klub, justru dimanfaatkan untuk menciptakan berita palsu. Rasa cinta saya kepada Milan tidak bisa dipertanyakan oleh siapa pun,” tulisnya tegas.
Baca Juga:AC Milan Bakal Kantongi Duit Rp1,7 Triliun dari Pemain BuanganMedia Italia: Inter dan Juventus Rebutan Kiper Tottenham Seharga Rp425 Miliar
Pernyataan itu sekaligus menegaskan identitas Camarda sebagai produk akademi Milan sejati.
Ia mengaku mulai bermain sepak bola sejak usia 4,5 tahun dan bergabung dengan Milan setahun kemudian.
“Dari usia 5 sampai 16-17 tahun saya di Milan. Sekarang saya di Lecce,” ucapnya.
Soal idola, Camarda mengaku tak memiliki satu panutan khusus, tetapi banyak belajar dari sejumlah striker top seperti Luis Suarez, Zlatan Ibrahimovic, dan Cristiano Ronaldo.
Terakhir, ketika ditanya siapa lawan terberat yang pernah dihadapi, ia menyebut bek Juventus, Gleison Bremer, sebagai yang paling sulit ditembus.
“Saya rasa Bremer dari Juventus sangat kuat. Tapi saya juga menghadapi banyak pemain hebat seperti Gabbia dan Pavlovic di Milan, serta de Vrij dari Inter. Namun yang paling sulit menurut saya tetap Bremer,” pungkasnya.
Dengan klarifikasi ini, Camarda mencoba meredam spekulasi dan kembali fokus pada pemulihan cedera serta target menyelesaikan musim bersama Lecce.
Baca Juga:Buffon Ungkap Syarat Kenan Yildiz Masuk Daftar Legenda Juventus: Menangkan Liga ChampionsBuffon Ungkap Perbedaan Ronaldo Nazario dengan Cristiano Ronaldo: CR7 Predator di Kotak Penalti
Satu hal yang jelas, ia tak ingin loyalitasnya kepada Milan diragukan.
