Namun hingga kini, kondisi di lapangan masih sama. Anak-anak tetap melewati jalur sempit dengan risiko yang juga tidak berubah.
“Kalau memang mau dibangun, kapan? Kalau belum, sampai kapan anak-anak harus lewat jalan seperti ini?” tuturnya.
Menurutnya, kegelisahan ini bukan suara satu orangtua saja, melainkan keresahan banyak keluarga yang anaknya bersekolah di kawasan tersebut.
Baca Juga:Gentengisasi Prabowo Jadi Angin Segar, Industri Genteng di Priangan Timur Siap Bangkit dari Mati SuriPositif Tipes Usai Rakor di Jakarta, Wali Kota Tasikmalaya Jalani Bedrest Total
Ia berharap pemerintah tidak berhenti pada pembangunan gedung sekolah semata, tetapi juga memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia.
Jalan yang aman, katanya, bukan tuntutan berlebihan, melainkan kebutuhan dasar.
“Anak-anak itu setiap hari berangkat untuk belajar, bukan untuk menghadapi risiko di jalan,” jelasnya.
Di Kota Tasikmalaya, akses pendidikan semestinya tidak berubah menjadi “ujian nyali” setiap pagi.
Karena yang diuji seharusnya pengetahuan, bukan keberanian melawan lalu lintas truk tambang. (ayu sabrina barokah)
