Akses Sekolah di Kota Tasikmalaya Masih Jalur “Ujian Nyali”, Sampai Kapan Siswa Harus Lewat Tambang?

akses sekolah berbahaya di Kota Tasikmalaya
Salah satu orangtua siswa SMAN 11 Tasikmalaya saat menjemput anaknya melewati akses portal galian pasir. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya 
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Setiap pagi, seorang orangtua siswa di Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, selalu memulai hari dengan rasa cemas.

Bukan karena ulangan mendadak atau tugas sekolah anaknya, melainkan karena jalan yang harus dilalui sang anak menuju SMA negeri.

Jalan tersebut bukan akses resmi, sempit, tanpa trotoar, dan sebagian berbatasan langsung dengan area galian pasir. Jalur yang lebih mirip lintasan tambang ketimbang rute pelajar.

Baca Juga:Gentengisasi Prabowo Jadi Angin Segar, Industri Genteng di Priangan Timur Siap Bangkit dari Mati SuriPositif Tipes Usai Rakor di Jakarta, Wali Kota Tasikmalaya Jalani Bedrest Total

“Kalau soal jarak memang lebih dekat. Tapi jalannya itu yang jadi masalah,” ujar orangtua yang enggan disebutkan namanya kepada Radar Tasikmalaya, Selasa (10/2/2026).

Anaknya kini bersekolah di SMA negeri yang relatif dekat dari rumah. Secara biaya dan waktu, keberadaan sekolah itu sangat membantu keluarga.

Namun rasa syukur itu belum sepenuhnya lengkap karena akses menuju sekolah masih menyisakan ancaman keselamatan.

Setiap hari, siswa harus melewati jalur tidak resmi di pinggiran perumahan yang juga dilintasi kendaraan besar pengangkut pasir.

Lebar jalan terbatas, permukaan tidak rata, dan tidak ada ruang aman bagi pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor.

“Mau lewat mana lagi? Jalannya memang itu saja,” katanya singkat, seolah pasrah pada rute yang sudah menjadi takdir harian.

Kondisi makin mengkhawatirkan saat musim hujan. Jalan menjadi licin, muncul genangan di beberapa titik, sementara aktivitas kendaraan tambang tetap berjalan seperti biasa.

Baca Juga:BPJS Belum Masuk, RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Tetap Jalankan Layanan StuntingBelasan Korban Aplikasi MBA Lapor Polres Tasikmalaya Kota, Kerugian Beragam 

“Bukan cuma sekali dua kali lihat truk lewat dekat anak-anak,” ucapnya.

Ia menegaskan keluhannya bukan penolakan terhadap keberadaan sekolah. Justru sebaliknya, ia bersyukur anaknya bisa bersekolah lebih dekat dari rumah.

Namun menurutnya, sekolah tanpa akses aman ibarat bangunan megah di ujung lorong berbahaya.

“Saya senang anak saya bisa sekolah di SMA negeri yang lebih dekat. Tapi akses seperti ini kan tidak bisa dibiarkan terus,” katanya.

Baginya, akses jalan merupakan bagian dari hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan layak, bukan sekadar sampai di gerbang sekolah.

Yang membuat para orangtua resah adalah ketidakjelasan waktu. Ia mengaku pernah mendengar kabar bahwa akses jalan sudah diukur dan direncanakan akan dibangun.

0 Komentar