Evaluasi menjelang satu tahun kepemimpinan pasangan Viman Alfarizi Ramadhan–Diky Candra. Menariknya, aksi ini tidak dihadapi aparat semata.
Hampir seluruh jajaran pimpinan organisasi perangkat daerah hadir. Sekretaris Daerah. Kepala Bappelitbangda. Inspektur. Kepala Dinas Lingkungan Hidup. Kasatpol PP. Kepala Dinas Perhubungan. Kepala Dinas Kesehatan. Kepala Diskominfo. Kepala Disdukcapil. Asisten Daerah II dan III. Kepala Dinas UMKM dan Perindag. Kepala Dinas PUTR. Lengkap.
Satu per satu pejabat itu berbicara. Memaparkan capaian. Menjelaskan program unggulan. Menyebut target. Menyampaikan rencana lanjutan.
Baca Juga:Satu Ventilator yang Membuat RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Tertutup bagi BPJSRibuan Pengendara Motor di Kota Tasikmalaya Masih Bandel, Sepekan Operasi Keselamatan Lodaya
Aksi demonstrasi pun berubah rupa. Dari teriakan menjadi presentasi. Dari tuntutan menjadi paparan. Namun di situlah letak persoalan yang disoroti SAPMA PP.
Ketua SAPMA PP Kota Tasikmalaya, Muamar Khadapi, menilai paparan tersebut justru memperlihatkan jarak antara narasi dan realitas.
“Hampir satu tahun Kota Tasikmalaya berjalan tanpa kompas kebijakan. Yang terlihat ramai itu rapat, seremoni, dan pencitraan. Tapi rakyat tidak hidup dari panggung formalitas,” ujarnya.
Menurut Muamar, persoalan kota hari ini sudah melampaui urusan teknis. Sampah menumpuk. Banjir datang berulang akibat drainase buruk. Jalan rusak. Trotoar tak ramah pejalan kaki. Kabel semrawut. Semua itu masih menjadi pemandangan harian tanpa penyelesaian sistemik.
“Ini bukan soal estetika kota. Ini soal kualitas hidup warga yang dibiarkan memburuk,” tegasnya.
Ia juga menyinggung sektor pelayanan publik dan ekonomi. Digitalisasi, kata dia, kerap dijadikan jargon, tetapi belum menghadirkan layanan yang cepat dan mudah. Tekanan ekonomi belum diimbangi kebijakan yang benar-benar menyentuh dapur rakyat. Lapangan kerja stagnan. UMKM belum naik kelas. Pembangunan dinilai belum merata.
Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya yang hadir dalam aksi tersebut menyatakan pemerintah terbuka terhadap kritik. Ia menyebut kehadiran OPD sebagai bentuk kesediaan dievaluasi.
Baca Juga:Dari Aduan Publik ke Meja Inspektorat: ASN Kota Tasikmalaya Diingatkan Kembali Jadi Pelayan, Bukan TuanPers, Polisi, dan Kamera yang Tak Pernah Tidur
“Apa yang disampaikan hari ini menjadi catatan penting bagi kami. Paparan capaian bukan untuk membantah kritik, tetapi sebagai bahan evaluasi agar program ke depan lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Namun bagi SAPMA PP, kehadiran pejabat dan paparan program tidak boleh berhenti sebagai respons simbolik.
