RADARTASIK.ID – Gol, tontonan, kontroversi, penyelamatan gemilang, hingga kesalahan fatal mewarnai laga Juventus kontra Lazio.
Duel sarat drama di Allianz Stadium itu berakhir imbang 2-2, hasil yang mencerminkan ketat dan panasnya pertandingan.
Juventus merasa dirugikan sejak awal setelah gol Teun Koopmeiners dianulir oleh wasit.
Baca Juga:Batistuta Sakit Hati Dilupakan Fiorentina: Saya Bahkan Tak Tahu Cara Dapatkan Tiket ke StadionJika Tak Lolos ke Liga Champions, Juventus Disarankan Contek Gaya AC Milan
Tak berhenti di situ, potensi penalti bagi Bianconeri juga sirna usai pelanggaran Mario Gila terhadap Andrea Cabal di kotak terlarang tidak dianggap sebagai pelanggaran yang layak dihukum titik putih.
Disisi lain, Lazio justru tampil efektif. Tim tamu dua kali unggul melalui gol Pedro dan Gustav Isaksen, yang secara unik tercipta di menit ke-47—satu di penghujung babak pertama dan satu lagi tepat setelah jeda.
Namun, Juventus merespons cepat. Weston McKennie kembali menjadi pemecah kebuntuan dengan gol yang memperkecil ketertinggalan.
Pierre Kalulu lalu menyelamatkan tuan rumah dari kekalahan. Gol sang bek di menit ke-96 memaksa laga berakhir imbang 2-2.
Secara permainan, hasil ini dinilai cukup adil. Namun dari sisi klasemen, satu poin tak terlalu menguntungkan bagi kedua tim.
Juventus tetap bertahan di posisi keempat Serie A, tetapi membuka peluang bagi AS Roma—yang akan menghadapi Cagliari—untuk memangkas jarak.
Sementara Lazio masih tertahan tiga poin di bawah zona Eropa dan terancam makin tertinggal jika Atalanta dan Como meraih kemenangan di laga mereka.
Baca Juga:Daftar Tim yang Jadi Tujuan Ronaldo Jika Tinggalkan Al-Nassr: Dari Manchester United hingga Sporting LisbonMedia Italia: Cedera Gagalkan Niat Inter Jual Dumfries ke Liverpool
Usai pertandingan, pelatih Juventus Luciano Spalletti melontarkan kritik keras terhadap kinerja wasit dalam wawancara dengan DAZN, khususnya terkait keputusan penalti atas pelanggaran terhadap Cabal.
“Apakah itu penalti? Wasit bisa menafsirkannya sesuka hati karena bek melakukan tekel yang ceroboh. Setiap kontak selalu memberi ruang untuk interpretasi,” ujar Spalletti.
Meski mengaku tak ingin memperdebatkan satu keputusan semata, Spalletti menyoroti inkonsistensi dalam penerapan aturan.
Menurutnya, kasus handball, injakan kaki, maupun kontak fisik hampir selalu dinilai berbeda tergantung situasi dan sudut pandang wasit.
“Tidak setiap handball adalah penalti, tidak setiap injakan kaki juga penalti. Semua harus dianalisis secara menyeluruh, melihat situasi dan momennya,” tegasnya.
