Dalam refleksi tersebut, KH Dudu juga menyampaikan penghormatan kepada para pendahulu PCNU Kota Tasikmalaya yang telah menjaga api perjuangan tetap menyala, mulai dari Sutisna Senjaya, Ajat Sudrajat, KH Khulainan, Lukmanul Hakim, Hidayat, Abun Bunjamin, hingga KH Amin Attasyah.
“Pemimpin NU ini mungkin tidak viral di dunia, tapi insyaallah viral di akhirat karena keikhlasan mereka,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Diky Candra, yang hadir dalam acara tersebut, mencoba merumuskan semangat NU dalam akronim TASIK: Taqwa, Amanah, Syukur Nikmat, Ikhlas, dan Komunikatif.
Baca Juga:Warga Ciamis Berhak Bahagia, Usai PSGC Dipastikan Lolos ke Liga 2 Pegadaian!Polri Lawan Tengkulak Jagung dengan KUR dan Bulog, Harga Petani Dijaga Rp6.400 per Kilogram
Nilai itu, menurutnya, sejalan dengan spirit satu abad NU dalam menjaga harmoni kehidupan beragama dan berbangsa.
Satu abad NU di Kota Tasikmalaya bukan sekadar perayaan usia. Ia menjadi cermin: sejauh mana NU masih setia pada khitahnya, dan sejauh mana ia mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Dari Kota Tasikmalaya, NU kembali ditegaskan berdiri di garis pengabdian—menjaga agama, merawat tradisi, dan menguatkan persatuan bangsa.
Di tengah dunia yang semakin bising, NU dituntut tetap menjadi suara yang menenangkan. Bukan yang paling keras, tapi yang paling meneduhkan. (ayu sabrina barokah)
