Menuju Sekolah Harus Lewati Galian Pasir, Potret Buram Akses Pendidikan di Kota Tasikmalaya

akses jalan SMA Negeri 11 Tasikmalaya belum layak
Siswa SMAN 11 Tasikmalaya meniti jalan setapak melewati kebun hingga perumahan, Sabtu (7/2/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID

Di Kota Tasikmalaya, semangat belajar siswa masih harus menaklukkan tanjakan, batu, lumpur, dan debu tambang. Bukan metafora.

Inilah rute harian menuju SMA Negeri 11 Tasikmalaya di Kecamatan Bungursari—sekolah negeri baru yang berdiri megah, tapi akses jalannya masih tertinggal di zaman jalan setapak.

Hak atas pendidikan yang layak, bagi sebagian siswa, masih harus dibayar dengan keberanian melintasi jalur berbahaya setiap pagi.

Baca Juga:Warga Ciamis Berhak Bahagia, Usai PSGC Dipastikan Lolos ke Liga 2 Pegadaian!Polri Lawan Tengkulak Jagung dengan KUR dan Bulog, Harga Petani Dijaga Rp6.400 per Kilogram

Sabtu (7/2/2026), SMA Negeri 11 Tasikmalaya menggelar latihan kepemimpinan siswa sekaligus pengenalan lingkungan sekolah bagi 30 siswa angkatan perdana.

Selama satu semester sebelumnya, mereka menumpang belajar di SMA Negeri 1 Tasikmalaya karena sekolah baru belum siap, terutama dari sisi akses jalan.

Sekolah yang beralamat di Jalan Gunung Cihcir, Rancsengang, Kecamatan Bungursari itu terkurung lahan milik pribadi dan area pertambangan pasir.

Jalan umum menuju sekolah praktis belum ada. Pilihan siswa hanya dua: menyusuri jalan sempit perumahan atau menembus kawasan galian pasir yang penuh risiko.

Sekolah berdiri, tapi jalannya masih harus “pinjam” wilayah orang lain.

Jika tidak melewati jalan pintas di Perumahan Wijaya Agape, siswa terpaksa melintas area galian pasir yang kadang dipasangi portal. Secara lisan diizinkan, tapi kondisi medan tak pernah ramah pelajar.

Saat hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin. Saat panas, debu beterbangan bersama lalu-lalang truk tambang. Helm proyek lebih relevan daripada seragam putih abu-abu.

Baca Juga:Ekshibisi Tarung Lagga Striking Kota Tasikmalaya Jadi Panggung Atlet Indoboxing Menuju Level NasionalNU 100 Tahun di Kota Tasikmalaya: dari Karnaval Budaya ke Agenda Peradaban

Kepala SMA Negeri 11 Tasikmalaya, Dian Widyastuti S.Pd., M.Pd, menyebut saat ini sekolah memiliki 12 guru dan tenaga kependidikan. Namun persoalan akses masih menjadi pekerjaan rumah paling mendesak.

“Sekolah ini dikelilingi sekitar 20 hektare lahan milik pribadi, sebagian merupakan area tambang pasir. Untuk sementara siswa menggunakan jalan setapak melalui Perumahan Wijaya Agape,” ujarnya.

Menurut Dian, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran orangtua yang setiap hari harus mengantar dan menjemput anaknya di jalur sempit dan rawan.

Di tepi jalan setapak, seorang ibu tampak menunggu anaknya dengan wajah cemas. Ini pengalaman pertamanya menghadapi akses sekolah seperti ini.

0 Komentar