DKKT Uji Arah Gerak Seni Kota Tasikmalaya: Dari Rapat di Curug hingga Tantangan Digitalisasi Budaya

rapat kerja DKKT di Curug Cimedang
Para pengurus DKKT saat tiba di Curug Cimedang Malaganti, Kabupaten Tasikmalaya untuk melaksanakan rapat kerja, Kamis (5/2/2026). istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID

Rapat kerja Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) tak digelar di ruang ber-AC atau hotel berbintang.

Mereka memilih Curug Cimedang Malaganti, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (5/2/2026) lalu.

Bukan sekadar cari udara segar, tapi menguji: apakah ide-ide seni masih bisa lahir di tengah gemericik air dan sinyal yang putus-nyambung.

Tujuh komite DKKT —sastra, tari, musik, rupa, teater, fotografi-perfilman, dan budaya— berkumpul membedah capaian, tantangan, serta arah kerja ke depan.

Baca Juga:Warga Ciamis Berhak Bahagia, Usai PSGC Dipastikan Lolos ke Liga 2 Pegadaian!Polri Lawan Tengkulak Jagung dengan KUR dan Bulog, Harga Petani Dijaga Rp6.400 per Kilogram

Ketua DKKT Tatang Pahat menyebut rapat ini sebagai ruang adu gagasan, bukan sekadar daftar hadir dan laporan kertas.

“Di sini semua komite menyampaikan konsep, capaian, dan kendala. Mulai dari pertunjukan, ekonomi kreatif, sampai digitalisasi seni budaya,” kata Tatang, Minggu (8/2/2026).

Berbeda dari rapat kerja biasanya, DKKT periode 2025–2030 sengaja menggelarnya di alam terbuka.

Alasannya klise tapi masuk akal: alam dianggap bisa memancing kreativitas, memperkuat kebersamaan, dan membuat diskusi lebih cair.

Tidak ada meja panjang, tidak ada mikrofon resmi—yang ada debat ide ditemani suara air terjun.

Namun di balik suasana santai, isu yang dibahas justru serius: posisi DKKT sebagai “rumah besar” kesenian Kota Tasikmalaya yang harus berfungsi lebih dari sekadar penyelenggara acara seremonial.

DKKT dituntut menjadi fasilitator dan mitra seniman, sekaligus jembatan antara komunitas seni dengan pemerintah dan swasta.

Baca Juga:Ekshibisi Tarung Lagga Striking Kota Tasikmalaya Jadi Panggung Atlet Indoboxing Menuju Level NasionalNU 100 Tahun di Kota Tasikmalaya: dari Karnaval Budaya ke Agenda Peradaban

Tantangan terbesarnya bukan lagi soal panggung, melainkan bagaimana seni lokal bisa bertahan di tengah arus digital dan komersialisasi budaya.

“DKKT harus membuka local genius agar bisa mendunia. Caranya dengan jejaring, karya, dan memanfaatkan teknologi—platform digital dan media sosial,” terang Tatang.

Ia mengakui perjalanan DKKT tidak selalu mulus. Konflik internal, perbedaan pandangan, hingga kecurigaan antar komunitas sempat menjadi batu sandungan.

Namun justru itu yang, menurutnya, diolah menjadi energi agar DKKT tetap “ajeug”—berdiri dan eksis.

Rapat kerja di Cimedang bukan hanya menghasilkan daftar program, tetapi juga dialektika antara pengalaman personal seniman dan kepentingan publik.

0 Komentar