TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID —
GOR Sukapura Dadaha bukan lagi sekadar gedung olahraga. Selama Februari ini, ia berubah menjadi panggung besar tempat jaipongan menumpahkan energi, gemulai, dan ambisi.
Ratusan penari dari berbagai daerah menyerbu Kota Tasikmalaya dalam ajang Pasanggiri Jaipongan Piala Wali Kota Tasikmalaya.
Bukan acara kecil-kecilan. Sebanyak 374 nomor peserta tercatat resmi. Jika dihitung per kepala, jumlahnya menembus lebih dari 600 penari, termasuk sekitar 60 kelompok rampak.
Baca Juga:Polri Lawan Tengkulak Jagung dengan KUR dan Bulog, Harga Petani Dijaga Rp6.400 per KilogramEkshibisi Tarung Lagga Striking Kota Tasikmalaya Jadi Panggung Atlet Indoboxing Menuju Level Nasional
Angka yang membuat Kota Tasikmalaya mendadak mirip ibu kota jaipong Jawa Barat.
Ketua Pelaksana dari Yayasan Seni Budaya Dera Kinarya, Dede Wahyudin, menyebut antusiasme tahun ini melampaui perkiraan.
“374 nomor peserta. Kalau dihitung individu, lebih dari 600 orang. Ada sekitar 60 rampak,” kata Dede, Sabtu (7/2/2026).
Peserta tidak hanya datang dari Priangan Timur. Kota Tasikmalaya juga kedatangan penari dari luar wilayah, mulai dari Brebes, Cilacap, hingga Bekasi. Jaipongan ternyata lebih rajin bepergian dibanding sebagian pejabat.
Pasanggiri digelar dalam empat hari: 7, 8, 14, dan 15 Februari 2026. Kategorinya lengkap, dari usia dini sampai umum:
– Tunggal TK.
– SD (kelas 1–3 dan 4–6).
– SMP dan SMA.
– Tunggal laki-laki.
– Pasangan.
– Rampak anak dan rampak umum.
Ragam gaya juga ikut naik panggung. Dari jaipongan pakem hingga gaya kiwari, semua diberi ruang.
Arena ini menjadi etalase kualitas sekaligus ajang pembuktian siapa paling luwes membaca kendang.
Baca Juga:NU 100 Tahun di Kota Tasikmalaya: dari Karnaval Budaya ke Agenda PeradabanBupati Tasik dan Oleh-Oleh Jalan dari Jakarta
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Diky Candra, membuka acara mewakili Wali Kota. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar soal seni, tetapi juga soal ekonomi.
“Seni budaya bukan cuma pelestarian. Disadari atau tidak, ini menggerakkan ekonomi,” tuturnya.
Menurut Diky, satu penari saja butuh banyak perlengkapan: busana, pangsi, iket, rias wajah, hingga aksesori. Rantai kebutuhan itu otomatis menghidupkan UMKM.
Belum lagi efek domino ke sektor lain: penginapan penuh, warung makan ramai, dan hotel ikut kecipratan rezeki dari tamu luar daerah.
“UMKM, hotel, resto semua terdampak. Jadi seni budaya bukan hanya panggung, tapi mesin ekonomi kreatif,” katanya.
Dengan ratusan penari dan peserta lintas daerah, Pasanggiri Jaipongan ini menjadi lebih dari sekadar lomba.
