Ia menekankan tantangan generasi NU ke depan bukan hanya soal ideologi, tetapi juga kepedulian terhadap kemanusiaan dan lingkungan.
“Kita harus menanamkan cinta kemanusiaan dan cinta lingkungan. Banyak warga Nahdliyin petani dan tinggal di desa. Ketahanan pangan dan kelestarian alam itu bagian dari masa depan NU,” jelasnya.
KH Dudu menyebut kegiatan ini bukan sekadar euforia, tetapi ajang silaturahmi lintas warga dan lintas elemen masyarakat Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Bupati Tasik dan Oleh-Oleh Jalan dari JakartaPolisi Turun Tangan Punguti Sampah Situ Gede, Kota Tasikmalaya Diingatkan Soal Ruang Publik yang Mulai Lelah
“Di NU, kumpul-kumpul juga ibadah. Tapi silaturahmi ini bukan hanya untuk warga NU, masyarakat umum juga diundang,” katanya.
Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Aslim berharap NU di usia satu abad tetap menjadi mitra strategis sekaligus mitra kritis pemerintah.
“NU harus semakin kokoh dan terasa khidmatnya untuk bangsa dan negara. Khusus di Kota Tasikmalaya, NU kami harapkan menjadi mitra strategis sekaligus mitra kritis, memberi masukan berarti bagi pembangunan kota,” harapnya.
Karnaval Harlah NU ke-100 di Kota Tasikmalaya pun menjadi lebih dari sekadar perayaan.
Ia menjelma menjadi panggung kebersamaan, di mana warga, ulama, dan pejabat sama-sama berjalan kaki—bukan hanya di jalan raya, tapi juga menuju agenda besar: menjaga tradisi, memperkuat regenerasi, dan merawat masa depan kota. (rezza rizaldi)
