Jika Tak Lolos ke Liga Champions, Juventus Disarankan Contek Gaya AC Milan

Juventus
Ilustrasi Juventus Tangkapan layar X
0 Komentar

Di luar fase liga, terdapat tambahan €1 juta (Rp17 miliar) untuk partisipasi play-off dan €11 juta (Rp187 miliar) jika lolos ke babak 16 besar.

Pendapatan tersebut belum termasuk matchday: tiket, hospitality, dan penjualan merchandise.

Untuk laga kandang besar, pemasukan bisa mencapai €7–8 juta per pertandingan—sekitar Rp119–136 miliar.

Efek berantai Liga Champions juga mengalir ke nilai kontrak komersial.

Banyak sponsor memiliki klausul variabel yang mengaitkan pembayaran dengan partisipasi di Liga Champions; absen berarti penalti atau penurunan signifikan pendapatan.

Baca Juga:Daftar Tim yang Jadi Tujuan Ronaldo Jika Tinggalkan Al-Nassr: Dari Manchester United hingga Sporting LisbonMedia Italia: Cedera Gagalkan Niat Inter Jual Dumfries ke Liverpool

Contohnya, kesepakatan sponsor kaus dengan Jeep dan Visit Detroit saat ini belum menghadirkan bonus berarti, dengan proyeksi sekitar €23 juta (Rp391 miliar) baru terasa mulai 2026/2027—yang akan sulit terealisasi tanpa visibilitas Eropa.

Aspek regulasi tak kalah genting. Aturan FFP UEFA yang baru membatasi biaya skuad (gaji, amortisasi, komisi) maksimal 70% dari pendapatan.

Tanpa Liga Champions, pendapatan Juventus berisiko tak cukup untuk menopang struktur biaya saat ini.

Konsekuensinya dua: suntikan modal kembali dari pemilik atau sanksi UEFA melalui perjanjian penyelesaian baru.

Di titik inilah muncul rekomendasi strategis dengan meniru pendekatan AC Milan.

Tanpa Liga Champions, pertumbuhan akan tertahan karena manajemen hampir pasti menerapkan pengurangan gaji dan mempertimbangkan pengorbanan pemain kunci.

Milan memberi contoh musim panas lalu, ketika penjualan Tijjani Reijnders membantu menata keuangan dan membuka ruang investasi pada profil muda berpotensi tinggi.

Baca Juga:Cristiano Ronaldo Mogok Main, Al-Nassr Sukses Tumbangkan Al-IttihadMedia Italia: AC Milan Lakukan Negosiasi dengan Agen Leon Goretzka

Bagi Juventus, kegagalan lolos Liga Champions bisa memaksa strategi serupa: menjual aset bernilai tinggi untuk menyeimbangkan neraca, fokus pada talenta muda, dan membangun ulang secara bertahap.

Sebuah pilihan pahit, namun realistis—dan mungkin satu-satunya jalan jika target keempat besar meleset.

0 Komentar