RADARTASIK.ID – Juventus berada di persimpangan krusial musim ini usai tersingkir secara menyakitkan dari Coppa Italia oleh Atalanta.
Tim asuhan Luciano Spalletti sepenuhnya terlibat dalam perebutan tiket Liga Champions, dan laga melawan Lazio pada Minggu mendatangakan menjadi titik balik yang bisa menentukan arah musim.
Finis di posisi keempat bukan sekadar target olahraga, melainkan kebutuhan ekonomi yang dapat mengubah strategi klub secara menyeluruh.
Baca Juga:Daftar Tim yang Jadi Tujuan Ronaldo Jika Tinggalkan Al-Nassr: Dari Manchester United hingga Sporting LisbonMedia Italia: Cedera Gagalkan Niat Inter Jual Dumfries ke Liverpool
Neraca keuangan, bonus UEFA, nilai sponsor, hingga kepatuhan terhadap aturan Financial Fair Play (FFP) membuat kualifikasi Liga Champions bernilai jutaan euro.
Jika gagal, Juventus disarankan menempuh jalur yang lebih pragmatis—mencontek gaya AC Milan—dengan menjual pemain bintang demi menyehatkan keuangan dan menjaga keberlanjutan proyek.
Untuk tahun kedua berturut-turut, Juventus merevisi rencana bisnis.
Pemilik klub, Exor melalui John Elkann, menargetkan titik impas pada 2026. Namun pada laporan keuangan terbaru yang disetujui untuk tahun fiskal berakhir 30 Juni 2025, target itu ditunda ke 2027.
Dalam rapat pemegang saham, CEO baru Comolli diberi ruang menunda target break even poin dengan syarat pengurangan biaya tidak lebih dari €30 juta—setara Rp510 miliar (kurs €1 = Rp17.000).
Angka ini menegaskan satu hal: kembali ke Liga Champions jadi syarat utama agar pemulihan ekonomi Juventus berkelanjutan.
Konteks ini pula yang menjelaskan penunjukan Luciano Spalletti.
Pelatih asal Tuscany itu direkrut untuk mengembalikan daya saing tim yang, di era Igor Tudor, mulai menjauh dari zona Liga Champions.
Kontrak Spalletti yang relatif pendek—sekitar delapan bulan—juga menekan beban finansial, sejalan dengan kebijakan kehati-hatian klub.
Baca Juga:Cristiano Ronaldo Mogok Main, Al-Nassr Sukses Tumbangkan Al-IttihadMedia Italia: AC Milan Lakukan Negosiasi dengan Agen Leon Goretzka
Sebagai imbalannya, targetnya jelas dan tunggal: mengamankan tiket Liga Champions musim depan.
Dari sisi pendapatan, nilai Liga Champions sangat signifikan.
Dengan format Super Champions League terbaru, dampak finansial untuk musim 2025/2026 diperkirakan berada di kisaran €55–65 juta atau sekitar Rp935 miliar–Rp1,105 triliun.
Rinciannya meliputi bonus partisipasi €15,64 juta (Rp265,9 miliar), komponen peringkat historis dan market pool sekitar €20–25 juta (Rp340–425 miliar), serta bonus performa €2,1 juta (Rp35,7 miliar) untuk setiap kemenangan dan €700.000 (Rp11,9 miliar).
