RADARTASIK.ID – Gabriel Omar Batistuta dan Fiorentina adalah dua nama yang seharusnya tak terpisahkan.
Di Firenze, Batigol bukan sekadar mantan pemain, melainkan institusi, simbol era keemasan, dan ikon yang dicintai lintas generasi.
Namun di balik status legendaris itu, tersimpan kekecewaan mendalam. Batistuta mengaku merasa “dilupakan” oleh klub yang pernah ia bela sepenuh hati, bahkan di saat Fiorentina tengah berada dalam periode sulit.
Baca Juga:Jika Tak Lolos ke Liga Champions, Juventus Disarankan Contek Gaya AC MilanDaftar Tim yang Jadi Tujuan Ronaldo Jika Tinggalkan Al-Nassr: Dari Manchester United hingga Sporting Lisbon
Dalam wawancara bersama Cronache di Spogliatoio, mantan striker timnas Argentina itu berbicara jujur tentang hubungannya dengan manajemen Fiorentina.
Nada suaranya tak menyembunyikan rasa kecewa. Baginya, cinta kepada Fiorentina adalah sesuatu yang visceral, mengakar, dan tak pernah pudar.
Namun, ironi muncul ketika klub yang ia cintai justru tak pernah menghubunginya, bahkan sekadar untuk berdiskusi atau meminta pandangan.
“Panggilan dari Fiorentina? Setelah era Cecchi Gori, sudah ada dua manajemen yang berganti dan tidak satu pun pernah menghubungi saya. Itu menyakitkan,” ujar Batistuta.
“Jika mereka menelepon, saya akan merasa tidak dilupakan, tetapi diingat dan dipertimbangkan. Itu akan memberi saya kehidupan. Artinya semua pengorbanan yang saya lakukan tidak sia-sia,” lanjutnya.
Kekecewaan Batistuta terasa semakin dalam karena ia percaya masih bisa memberi kontribusi, bukan sebagai pemain, melainkan lewat pengalaman dan pemahamannya tentang lingkungan klub.
Ia menegaskan bahwa niatnya bukan mencari jabatan atau kehormatan, melainkan keinginan tulus untuk membantu.
Baca Juga:Media Italia: Cedera Gagalkan Niat Inter Jual Dumfries ke LiverpoolCristiano Ronaldo Mogok Main, Al-Nassr Sukses Tumbangkan Al-Ittihad
“Kalau saya bisa, saya akan turun ke lapangan sendiri untuk membantu Fiorentina. Itulah yang saya rasakan,” katanya.
“Di Firenze saya dicintai, saya tahu itu. Dan cinta yang sama yang mereka rasakan untuk saya, saya rasakan untuk mereka dan untuk seluruh kota. Saya merasakannya saat masih bermain, dan akan saya rasakan sampai mati,” tambahnya.
“Tapi para suporter bukanlah orang-orang yang mengambil keputusan di Fiorentina. Para petinggi klub-lah yang melakukannya, dan di sanalah saya merasa telah memberikan begitu banyak,” ungkapnya.
Pernyataan paling menyentuh datang ketika Batistuta berbicara soal hal yang tampak sepele, tetapi sarat makna.
