Selain sejarah, Milan juga dinilai memiliki keunggulan geografis.
Berbasis di Milan, kota yang dikenal sebagai ibu kota mode dunia, Rossoneri memiliki daya tarik global yang melampaui sepak bola semata.
Faktor inilah yang kemudian dijadikan landasan untuk membangun identitas klub yang lebih modern dan relevan secara komersial.
Beberapa tahun terakhir, Milan pun menetapkan visi baru.
Oettle menyebut klub berusaha menetapkan standar sendiri, bukan sekadar mengikuti tren.
Baca Juga:Beppe Marotta Jelaskan Mengapa Inter Tak Beli Pemain di Bursa Transfer JanuariDihubungi Pemilik Klub, Ranieri Beri Sinyal Totti Pulang ke AS Roma
Filosofi ini tercermin dalam strategi branding, kemitraan global, hingga pendekatan terhadap pengembangan bisnis klub.
Tak hanya soal manajemen dan komersial, Oettle juga menyinggung isu krusial lainnya: stadion baru.
Ia mengakui bahwa proses pembangunan infrastruktur di Italia berjalan lambat, namun Milan kini telah mencapai tonggak penting dengan membeli area San Siro.
“Kami sekarang merencanakan stadion baru di sebelah San Siro. Stadion lama sebagian besar akan dibongkar dan disisakan sebagai museum. Ambisi kami adalah membangun salah satu stadion terbaik di Eropa,” tegasnya.
Pengakuan Oettle soal buruknya pengelolaan Milan pasca-Berlusconi menjadi refleksi penting.
Rossoneri kini tak hanya berusaha bangkit di atas lapangan, tetapi juga memastikan kesalahan serupa tidak terulang, dengan fondasi manajemen yang lebih modern, profesional, dan berkelanjutan.
