Duduk bersama, berdiskusi langsung, mengubah atmosfer hubungan pemerintah dengan para pengkritiknya. Lebih sehat. Lebih konstruktif.
Amir meyakini, kritik yang disampaikan langsung dalam forum resmi biasanya jauh lebih substansial dan jernih dibandingkan kritik yang meledak-ledak di media sosial. Dengan cara itu, pemerintah bisa mendeteksi potensi masalah lebih cepat dan lebih tepat.
“Di sini kita melihat Pak Prabowo tidak sedang mencari tepuk tangan,” tegas Amir. “Beliau membuka koridor konsultasi.” lanjutnya.
Baca Juga:Booth Kota Tasikmalaya Laris di Inacraft, Istri Diky Candra Turun Tangan Jadi Influencer KriyaMobil Terbakar di Garasi Rumah Warga Kota Tasikmalaya, Diduga Korsleting Listrik
Ia berharap, langkah ini otomatis menurunkan tensi politik. Ketika kelompok kritis merasa dihargai, pemerintah tidak lagi dipandang sebagai menara gading. Keterbukaan berubah menjadi ruang kontribusi.
Perlahan, kritik liar di ruang digital bisa bergeser menjadi kritik rasional yang menyehatkan demokrasi.
Amir juga menangkap pesan lain yang tak kalah penting. Bahwa Prabowo memimpin negeri ini bukan hanya dengan kekuatan hukum dan kebijakan, tetapi juga dengan kekuatan moral dan kepercayaan sosial.
“Ormas Islam adalah pilar moderasi, penyeimbang nilai, sekaligus pemersatu jutaan umat,” ujarnya.
“Mengajak mereka berdialog menunjukkan Pak Prabowo paham betul lanskap sosial Indonesia yang berakar pada nilai-nilai keagamaan.”
Menurut Amir, langkah ini bukan diplomasi simbolik. Ini strategi memastikan kebijakan negara memiliki legitimasi moral dari para pemuka agama dan institusi keumatan.
“Di saat yang sama,” katanya, “Prabowo menunjukkan kepada publik bahwa negara ini aman di tangan kepemimpinan yang merawat keberagaman dan menghormati perbedaan.”
Baca Juga:BPJS Mati Mendadak, MPP Diserbu Warga Kota Tasikmalaya yang Ingin Aktif KembaliUang Rp477 Juta Raib dalam Proyek Sekolah, Oknum ASN Kota Tasikmalaya Dipolisikan Pengusaha
Di tengah turbulensi politik dan kebisingan digital, Prabowo memilih jalan yang tenang. Dialogis. Merangkul.
Kadang, justru dengan mengundang kritik, seorang pemimpin sedang menunjukkan betapa kuat dirinya. (rls)
