Selain itu, sebelum tindakan dijalankan harus ada uang deposit sebesar Rp 34 juta. Berat. Akhirnya rujukan rumah sakit dipindah ke Bandung.
“Akhirnya pindah rujukan ke Rumah Sakit Welas Asih Bandung. Penuh. Sehingga jadinya ke RSHS Bandung,” ungkap Opik.
Meski demikian, beban soal biaya belum tertangani. Masalah itu menjadi kendala utama. Jumlah yang dibutuhkan cukup besar. Tak mungkin ditangani pihak keluarga atau desa. Akhirnya dibuka donasi kepada khalayak.
Baca Juga:Lari dan Arah Pembangunan Kota Tasikmalaya yang Dipertanyakan! (part 4-habis)Lari dan Suasana Batin Warga Kota Tasikmalaya (Part 3)
“Betul kita sempat putus asa untuk biaya perawatan dan operasinya, akhirnya karena untuk kemanusiaan mencoba membuka donasi,” katanya.
Namun, saat ini, lanjut Opik, pihak keluarga telah memberi kabar bahawa ada tim Gubernur Jabar yang telah datang. Semua biaya operasi dan perawatan dinyatakan akan ditanggung Pemprov jabar.
“Kata ayahnya (Ananda, Red) alhamdulillah bisa ketemu Gubernur, sekarang mau dijemput sekarang. Sehingga bisa minta tolong dibantu terkait biayanya,”katanya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga memang merespon kejadian itu di instagram pribadinya, @dedimulyadi71. Ia menyampaikan, Ananda terkena peluru nyasar saat berburu di kebun. Dimungkinkan peluru ini bersumber dari pemburu babi hutan.
“Sekarang dirawat di RSHS Bandung, dan seluruh pembiayaan ditanggung pemerintah provinsi Jawa Barat. Karena keluarga tidak memiliki BPJS kesehatan,” tandasnya. (Fatkhur Rizqi)
