RADARTASIK.ID – Performa gemilang AC Milan saat menundukkan Bologna di pekan ke-23 Serie A bukan hanya soal skor telak 3-0 dan jarak klasemen yang tetap terjaga.
Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi panggung pembuktian bagi sosok yang sempat berada di persimpangan karier: Christopher Nkunku.
Penyerang asal Prancis itu tampil presisi, efektif, dan menentukan—sebuah jawaban telak atas keraguan yang sempat mengitarinya.
Baca Juga:Siapa Yanis Massolin? Pemain Baru Inter yang Dijuluki Titisan Adrien RabiotDaftar Klub Serie A dengan Penghasilan Terbesar dari Bursa Transfer Musim Dingin: Lazio No.1
Jurnalis Italia Sandro Sabatini, dalam analisisnya di Calciomercato, menyoroti secara khusus kisah Nkunku yang nyaris tersingkir dari proyek Milan.
Dalam beberapa pekan terakhir, nama mantan penyerang Chelsea itu sempat masuk daftar pemain yang akan dilepas, menyusul minimnya opsi di lini depan dan dinamika internal manajemen klub.
Menurut Sabatini, munculnya wacana penjualan Nkunku tak lepas dari manuver manajemen yang dipimpin Giorgio Furlani dan Zlatan Ibrahimovic.
Keduanya bahkan sempat mengarahkan fokus ke Jean-Philippe Mateta sebagai alternatif penyerang baru.
Namun rencana tersebut akhirnya gagal, terutama karena kondisi lutut Mateta yang dinilai bermasalah dan berisiko tinggi.
Di tengah situasi itu, peran Igli Tare dan Massimiliano Allegri justru menjadi krusial.
Sabatini menyebut duet Tare–Allegri sebagai pihak yang paling konsisten membela Nkunku.
Baca Juga:CEO Sassuolo Tak Setuju Inter Dikenai Sanksi Akibat Lemparan Petasan ke Emil AuderoJurnalis Italia Tuding Bursa Transfer AC Milan Mengecewakan
Keduanya bukan hanya menolak melepas sang pemain, tetapi juga memberikan dukungan psikologis dan teknis, memastikan Nkunku tetap merasa menjadi bagian penting dari proyek Milan.
“Dengan satu-satunya penyerang yang tersedia, Milan memilih untuk mempercayainya,” tulis Sabatini.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Nkunku membalas kepercayaan itu lewat penampilan yang nyaris tanpa cela.
Ia menunjukkan ketajaman insting, disiplin taktik, serta kemampuan membaca permainan yang selama ini mungkin tertutup oleh cedera dan inkonsistensi.
Gol dan kontribusinya bukan sekadar catatan statistik. Nkunku tampil efisien dalam setiap sentuhan, cerdas dalam membuka ruang, dan tenang saat menerima suplai dari lini kedua—terutama dari Adrien Rabiot yang tampil dominan.
Dalam sistem Allegri yang menuntut keseimbangan dan kesabaran, Nkunku menjelma sebagai ujung tombak yang tepat guna.
Bagi Sabatini, kisah ini menjadi bukti bahwa insting sepak bola Allegri dan Tare terbukti lebih tajam dibanding pendekatan manajerial yang terlalu reaktif.
