TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Kehadiran Unit Sekolah Baru (USB) SMA Negeri 11 Kota Tasikmalaya semestinya menjadi jawaban atas ketimpangan layanan pendidikan menengah di wilayah timur kota, khususnya Kecamatan Bungursari.
Sekolah ini digadang-gadang sebagai solusi agar siswa tak lagi harus “merantau” ke pusat kota demi bangku SMA negeri.
Namun, harapan itu sementara harus berjalan tertatih. Gedung sekolah memang sudah berdiri, tetapi akses menuju lokasi justru masih seperti jalur petualangan alam bebas.
Baca Juga:Lagi, Polisi Lakukan Ramp Check Bus di Kota Tasikmalaya: Uji Rem dan Mental Sopir Jelang Lonjakan PerjalananHarus Kredensialing Ulang Gara-gara Ventilator, Kendala RSUD Dewi Sartika Belum Terkoneksi dengan BPJS
Dari jalan raya utama, jarak menuju SMA Negeri 11 Kota Tasikmalaya sekitar 500 meter.
Masalahnya, jarak pendek itu harus ditempuh lewat jalan sempit yang belum diaspal, melintasi tanah milik pribadi dan bekas galian pasir.
Saat hujan turun, jalur tersebut berubah menjadi lintasan lumpur licin yang lebih cocok untuk sepatu bot daripada sepatu sekolah.
Kepala SMA Negeri 11 Kota Tasikmalaya, Dian Widyastuti S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa kondisi akses jalan menjadi kendala utama operasional sekolah.
“Lokasi sekolah berada di Jalan Gunung Cihcir, Rancasengang, Kecamatan Bungursari. Akses jalannya masih tidak layak karena melewati tanah milik pribadi dan bekas galian pasir,” ujar Dian, Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, persoalan ini sudah lama disampaikan kepada instansi terkait.
Bahkan, Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat disebut telah melakukan pengukuran awal sebagai bagian dari rencana pembangunan jalan menuju sekolah tersebut.
“Sebelumnya Bina Marga Pemprov Jabar sudah mengukur. Informasinya pembangunan direncanakan Januari 2026,” katanya.
Baca Juga:Pesan Bubur Berujung Bogem, Warga Tamansari Kota Tasikmalaya Polisikan Oknum Driver Ojol Tersangka Eksploitasi Terancam Penjara 10 Tahun: Kuasa Hukum Kurang Puas, Polisi Penuhi Berkas Arahan Jaksa
Sayangnya, hingga kini rencana itu masih sebatas garis ukur dan janji waktu.
Jalan yang dijanjikan belum juga terwujud, sementara gedung sekolah terlanjur berdiri tanpa denyut aktivitas belajar mengajar.
Dampaknya cukup serius. Proses pembelajaran belum bisa dimulai, bukan hanya karena keterbatasan tenaga pendidik, tetapi juga karena akses yang belum memungkinkan siswa dan guru datang dengan aman.
“Pembelajaran belum dimulai karena akses jalan dan guru belum ada,” ungkap Dian.
Situasi ini menampilkan ironi dalam upaya pemerataan pendidikan di Kota Tasikmalaya.
Di satu sisi, pemerintah menghadirkan sekolah baru sebagai simbol komitmen memperluas layanan pendidikan.
