20 Persen Warga Masih BABS, Jantung Kota Tasikmalaya Belum Sepenuhnya Sehat

20 persen warga masih BABS di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya
Camat Cihideung Kota Tasikmalaya, Nanang Iskandar memaparkan laporan saat Musrenbang, Selasa (3/2/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Nanang mengakui alokasi anggaran kecamatan tahun ini mengalami pengurangan. Meski begitu, dana kelurahan relatif tetap sekitar Rp250 juta per kelurahan.

Dengan kondisi tersebut, kelurahan diminta lebih selektif menentukan program prioritas yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat, termasuk penanganan ODF.

Sebaran ODF masih ditemukan di beberapa kelurahan, salah satunya Tuguraja. Namun wilayah lain juga belum sepenuhnya bebas.

Baca Juga:Lagi, Polisi Lakukan Ramp Check Bus di Kota Tasikmalaya: Uji Rem dan Mental Sopir Jelang Lonjakan PerjalananHarus Kredensialing Ulang Gara-gara Ventilator, Kendala RSUD Dewi Sartika Belum Terkoneksi dengan BPJS

Pemerintah kecamatan akan melakukan pendataan ulang untuk menentukan pola penanganan, apakah melalui septic tank komunal atau individual.

Dalam paparan Musrenbang, persoalan lintas kelurahan dirinci cukup panjang. Mulai dari sanitasi hingga pengairan.

Sedimentasi sungai di Jalan KHZ Mustofa, Kelurahan Nagarawangi, menjadi salah satu sorotan.

Material kiriman dari hulu membuat sungai tak lagi sanggup menampung debit air hujan.

Solusi yang diusulkan antara lain pengerukan melalui skema padat karya serta pemasangan pembatas di sekitar Sungai Cikidang.

Masalah sampah juga disorot di Jalan HZ Mustofa dan kawasan Dadaha. Sampah disebut datang bukan hanya dari warga sekitar, tapi juga dari pengguna jalan yang “sekadar lewat tapi meninggalkan jejak”.

Usulan solusi mencakup penyediaan kontainer sampah dan pengangkutan yang lebih rutin oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Baca Juga:Pesan Bubur Berujung Bogem, Warga Tamansari Kota Tasikmalaya Polisikan Oknum Driver Ojol Tersangka Eksploitasi Terancam Penjara 10 Tahun: Kuasa Hukum Kurang Puas, Polisi Penuhi Berkas Arahan Jaksa

Terkait ODF, Musrenbang menekankan perlunya pembangunan septic tank di gang-gang permukiman. Namun, terkendala ketiadaan septic tank pabrikan dan belum adanya standar harga.

Persoalan pengairan lainnya tercatat di Jalan Cibaregbeg–SL Tobing. Meski pengerukan sudah dilakukan, saluran menuju Jalan HZ Mustofa dinilai terlalu sempit sehingga air kerap meluap ke badan jalan.

Sementara itu, pembangunan Kantor Kelurahan Tuguraja yang rampung pada 2025 masih menyisakan kebutuhan ruang aula serta sekretariat bersama LPM dan PKK yang kembali diusulkan untuk 2027.

Di tengah pusat kota yang sibuk dan modern, persoalan paling dasar—tempat buang hajat—masih menjadi agenda Musrenbang.

Kota boleh tumbuh, tapi tanpa sanitasi layak, pertumbuhannya bisa berjalan sambil menutup hidung. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar