20 Persen Warga Masih BABS, Jantung Kota Tasikmalaya Belum Sepenuhnya Sehat

20 persen warga masih BABS di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya
Camat Cihideung Kota Tasikmalaya, Nanang Iskandar memaparkan laporan saat Musrenbang, Selasa (3/2/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Kota Tasikmalaya boleh punya pusat perkantoran, pusat belanja, dan pusat lalu lintas manusia.

Tapi urusan sanitasi, Kecamatan Cihideung masih menyisakan ironi.

Sekitar 20 persen warganya masih buang air besar sembarangan (BABS), meski wilayah ini berada tepat di jantung kota.

Fakta itu terungkap dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Cihideung, Selasa (3/2/2026).

Baca Juga:Lagi, Polisi Lakukan Ramp Check Bus di Kota Tasikmalaya: Uji Rem dan Mental Sopir Jelang Lonjakan PerjalananHarus Kredensialing Ulang Gara-gara Ventilator, Kendala RSUD Dewi Sartika Belum Terkoneksi dengan BPJS

Forum tahunan itu bukan hanya soal daftar usulan, tapi juga ajang membuka borok yang belum sempat ditambal.

Camat Cihideung Nanang Iskandar Dzulkarnen mengatakan Musrenbang menjadi ruang inventarisasi persoalan riil yang masih dirasakan masyarakat di tingkat kelurahan.

“Musrenbang ini kami gunakan untuk mengusulkan kegiatan yang memang jadi permasalahan dan perlu dituntaskan ke depan. Mudah-mudahan tidak terlalu lama,” ujarnya.

Nanang mengungkapkan capaian Open Defecation Free (ODF) di Kecamatan Cihideung baru menyentuh angka sekitar 80 persen.

Artinya, masih ada sebagian warga yang belum memiliki akses sanitasi layak, terutama di kawasan padat penduduk.

“Masih ada masyarakat yang buang air besar sembarangan,” katanya singkat, tanpa basa-basi.

Kendala terbesar penanganan ODF adalah keterbatasan lahan. Banyak rumah warga berdiri di pinggir solokan atau saluran air, sehingga tak memungkinkan pembangunan septic tank pribadi.

Baca Juga:Pesan Bubur Berujung Bogem, Warga Tamansari Kota Tasikmalaya Polisikan Oknum Driver Ojol Tersangka Eksploitasi Terancam Penjara 10 Tahun: Kuasa Hukum Kurang Puas, Polisi Penuhi Berkas Arahan Jaksa

“Yang jadi kendala itu lahan. Terutama rumah yang di pinggir solokan, masih ada yang membuang langsung ke saluran air,” lanjut Nanang.

Pemerintah kecamatan mendorong pembangunan septic tank, baik secara mandiri maupun komunal.

Namun, Nanang menegaskan persoalan ODF bukan hanya soal bangunan fisik, tapi juga perubahan perilaku masyarakat.

“Ini soal kesehatan dan kebiasaan. Infrastruktur penting, tapi kesadaran warga juga kunci,” katanya.

Selain BABS, masalah persampahan juga masih menghantui Kecamatan Cihideung.

Keluhan soal sampah lingkungan kembali mengemuka dalam Musrenbang dan diusulkan untuk ditangani di tingkat kota.

Nanang menegaskan keberhasilan program tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.

“Masyarakat juga harus ikut serta menyelesaikan masalah lingkungannya sendiri,” bebernya.

Isu kemiskinan dan stunting pun masih masuk daftar pekerjaan rumah. Melalui dana kelurahan, pemerintah mendorong pelatihan berbasis potensi warga agar keluarga miskin bisa meningkatkan pendapatan dan keluar dari zona rawan.

0 Komentar