UHC 98 Persen Hanya di Atas Kertas, Peserta Aktif Jaminan Kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya Tinggal 51 Persen

bpjs kesehatan kabupaten tasik
gambar ilustrasi: AI.ChatGPT
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sudah beberapa hari warga Kabupaten Tasikmalaya riuh di media sosial. Keluh kesah tentang tidak aktifnya kartu BPJS Kesehatan bertebaran.

Banyak yang menyebut kepala daerah mereka tak mampu menangani masalah itu. Sementara postingan tentang citra bertebaran, masalah kesehatan masyarakat justru terabaikan.

Postingan Bupati Tasikmalaua, Cecep Nurul Yakin, tentang raihan gelar Doktor dari salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung diserbu keluhan dan kritikan.

Baca Juga:MAN 1 Tasikmalaya Borong Piala, Sabet Gelar Juara Umum Penegak se-Jawa Barat di Ajang Ekspresi ke-16Lari yang Berubah Makna di Kota Tasikmalaya! (Part 1)

Soal BPJS yang tidak aktif. Soal jaminan kesehatan yang kini tiba-tiba menghilang. Jumlahnya tak sedikit. Ratusan ribu orang.

“Pamugi langkung peka lah Kana kaayaan masyarakat da geuning Ayna kondisi na kalah kieu BPJS seueur NU d non aktif keun sok pak bupati geura milarian solusi pikeun KA sejahteraan masyarakat NU butuh perhatosan na,” tulis akun Herxxx di postingan akun pribadi Cecep Nurul Yakin.

Komentar itu juga ditimpali warganet lainnya yang merasakan nasib sama.

“Nyak kang nu butuh pisan jalmi susah pisan bpjs kalah non aktif parah kieu,” timpal akun Banxxx.

Keluhan juga disuarakan warga lain yang mengaku tak pernah merasakan bantuan pemerintah selain BPJS Kesehatan. Namun bantuan itu juga kini tidak lagi didapat. BPJS kesehatannya tak bisa lagi digunakan.

“Rek iraha atuh warasna boga pamingpin jeung wakil rakyat urang mah can pernah ngasaan bansos bantuan lansia Pkh Bpnt ayeuna BPJS Teu aktip keir mh hirup ripuh jadi jalma kuli macul, Sugan aya aparat Desa nanyakeun jeung Nenjo kahirupan di masarakat aparat na oge kalah MOLOTOT MATA BUNCELIK TAPI TEU NEULEU KA MASYARAKAT,” ungkap akun Daxxx.

Kabupaten Tasikmalaya sebenarnya telah mencapai status Universal Health Coverage (UHC) untuk layanan kesehatan dengan skor menembus 98 persen. Indikator utama capaian ini antara lain: cakupan kepesertaan jaminan kesehatan nasional (JKN), dimana persentase total populasi yang terdaftar dalam program JKN-KIS dipatok minimal 95 persen agar bisa meraih status tersebut.

Komponen ini mencakup keaktifan peserta dalam membayar iuran dan komitmen pemerintah daerah melalui kebijakan PBPU (Pekerja Bukan Penerima Upah).

0 Komentar