TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Keluhan soal fasilitas umum yang tak ramah penyandang disabilitas di Kota Tasikmalaya kembali muncul.
Kali ini bukan dari laporan meja rapat atau seminar inklusivitas, melainkan dari curhat keseharian seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB).
Nabila, guru SLBN Bungursari, menuturkan kegelisahannya tentang wajah aksesibilitas kota yang menurutnya tak banyak berubah dari tahun ke tahun.
Baca Juga:Harus Kredensialing Ulang Gara-gara Ventilator, Kendala RSUD Dewi Sartika Belum Terkoneksi dengan BPJSPesan Bubur Berujung Bogem, Warga Tamansari Kota Tasikmalaya Polisikan Oknum Driver Ojol
Trotoar, transportasi umum, hingga bangunan publik masih menyisakan banyak “jebakan” bagi penyandang disabilitas.
“Fasilitas umum seperti trotoar dan transportasi publik belum sepenuhnya ramah disabilitas. Ini menghambat hak mereka atas aksesibilitas,” kata Nabila kepada Radar, Senin (2/2/2026).
Ia menegaskan, masalah tersebut bukan cerita baru. Kesulitan itu dirasakan lintas generasi penyandang disabilitas, dari dulu hingga sekarang.
Menurutnya, penyandang disabilitas masih kerap kesulitan berjalan di trotoar, naik angkutan umum, hingga masuk ke rumah ibadah, pertokoan, dan fasilitas kesehatan.
Ruang publik yang seharusnya inklusif justru berubah menjadi lintasan penuh rintangan.
Salah satu yang disorot Nabila adalah trotoar di sepanjang Jalan Mesjid Agung dan sekitarnya.
Jalur pejalan kaki di kawasan itu terhalang pot-pot bougenvil besar yang memakan ruang lintasan.
Baca Juga:Tersangka Eksploitasi Terancam Penjara 10 Tahun: Kuasa Hukum Kurang Puas, Polisi Penuhi Berkas Arahan JaksaRamp Check Bus di Kota Tasikmalaya, Satlantas Pastikan Armada Tak Sekadar Jalan Tapi Juga Layak Jalan
Bagi warga pada umumnya, kondisi tersebut mungkin hanya soal tidak nyaman.
Namun bagi pengguna kursi roda atau tunanetra, trotoar itu praktis tak bisa dilalui.
“Kalau tongkat saja tersangkut, apalagi kursi roda,” ucap Nabila.
Situasi serupa juga terlihat di Bundaran Tugu Asmaul Husna, Jalan HZ Mustofa.
Trotoar di kawasan tersebut dipenuhi tiang listrik, tiang lampu lalu lintas, hingga tiang jaringan internet.
Jalur pejalan kaki kehilangan fungsi sebagai ruang aman, terutama bagi penyandang disabilitas netra.
“Kalau berpikir karena jarang disabilitas lewat di sana lalu dibiarkan, ya gak boleh begitu. Aturannya kan ada,” tegasnya.
Padahal, data Paguyuban Penyandang Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas) mencatat terdapat sekitar 2.200 penyandang disabilitas di Kota Tasikmalaya.
Dari jumlah itu, 771 orang merupakan pelajar yang tersebar di tujuh SLB.
Angka tersebut menunjukkan isu aksesibilitas menyangkut ribuan warga, bukan kelompok kecil yang bisa diabaikan.
