Lari dan Arah Pembangunan Kota Tasikmalaya yang Dipertanyakan! (part 4-habis)

Wali kota tasikmalaya viman Alfarizi
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan saat mengikuti kegiatan lari marathon beberapa waktu lalu. (IST)
0 Komentar

Keberanian untuk menatap langsung. Keberanian untuk mendengar tanpa membantah. Keberanian untuk menerima bahwa tidak semua kritik lahir dari kebencian.

Jika lari terus dipaksakan sebagai pesan, publik akan terus menafsirkan dengan cara mereka sendiri. Dan tafsir yang lahir dari kelelahan jarang bersahabat. Mungkin yang dibutuhkan Kota Tasikmalaya hari ini bukan program baru.

Bukan jargon baru. Bukan rute lari baru. Melainkan satu momen sederhana: pemimpin berhenti sejenak, menoleh, dan berkata, “Saya dengar.”

Baca Juga:Lari dan Suasana Batin Warga Kota Tasikmalaya (Part 3)Pelari Muda MAN 1 Tasikmalaya, Muhammad Yazid Anwar, Borong Medali dan Amankan Tiket Porprov 2026

Di situlah makna lari bisa dipulihkan. Bukan sebagai simbol menghindar. Tapi sebagai pilihan sadar—setelah semua suara ditemui. Karena pada akhirnya, rakyat tidak meminta pemimpinnya selalu di depan.

Mereka hanya tidak ingin ditinggalkan. Dan kepemimpinan, seperti perjalanan panjang mana pun, tidak selalu tentang seberapa cepat kita melaju, melainkan tentang siapa saja yang masih bersama saat kita memilih untuk melangkah lagi. (red)

0 Komentar