Lari dan Perasaan Publik yang Diabaikan di Kota Tasikmalaya (Part 2)

Wali kota tasikmalaya viman alfarizi lari, tasik gemas
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan bersama anggota DPRD Kota Tasikmalaya Dede SIP memimpin barisan saat lari pagi sebagai program Tasik Gemas, beberapa waktu lalu.
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Masalahnya bukan pada larinya. Masalahnya pada jarak. Lari menciptakan jarak. Antara satu titik dengan titik lain.

Dalam kepemimpinan, jarak itu bukan sekadar meter. Ia bisa berubah menjadi jarak emosional.

Di situlah publik mulai merasa ditinggal. Ketika seorang Wali Kota Tasikmalaya berlari di pagi hari, sementara sebagian warganya sedang berdiri siang hari di bawah terik, menyuarakan tuntutan, maka yang muncul bukan inspirasi. Melainkan perbandingan.

Baca Juga:MK Menegaskan Pers Bukan Objek Pidana Instan!Panggilan untuk Jiwa Petarung di Kota Tasikmalaya! Boxing Van Java Segera Digelar di Dadaha

Dan perbandingan itu tidak pernah adil bagi yang sedang lelah. Publik Kota Tasikmalaya bukan menolak olahraga. Mereka menolak perasaan diabaikan.

Mereka tidak mempermasalahkan 5 kilometer. Yang mereka persoalkan adalah: berapa langkah yang diambil pemimpin untuk mendekat?

Karena kepemimpinan bukan lomba lari. Ia lebih mirip jalan kaki panjang. Kadang harus berhenti. Kadang harus berbelok.Kadang harus mundur sedikit.

Di kolom komentar, sindiran muncul berulang. Bukan karena rakyat hobi nyinyir. Tapi karena itu satu-satunya kanal yang mereka miliki. Ketika ruang dialog formal terasa tertutup, satire menjadi pintu darurat.

“Lari wae,” tulis mereka. Kalimat pendek. Tapi sarat makna. Bukan menyuruh olahraga. Melainkan menuduh menghindar.

Ada yang menulis lebih jujur: rakyat jangan diarahkan untuk tidak marah. Sebab marah adalah bahasa terakhir dari mereka yang tak lagi didengar. Yang mereka minta bukan panggung. Bukan seremoni. Bukan kaus olahraga.

Mereka minta kehadiran. Di titik ini, program GEMAS menghadapi ujian paling sulit: bukan soal konsistensi, tapi soal sensitivitas. Apakah sebuah program sehat bisa tetap terasa sehat ketika suasana batin publik sedang tidak baik-baik saja?

Baca Juga:Ketika Mas Wapres dan Mas Wali ke Pasar "Becek" Kota TasikmalayaLBH Ansor Jawa Barat: Kriminalisasi Kebijakan, Ancaman bagi Tata Kelola Negara!

Jawabannya sederhana. Bisa. Asal pemimpinnya tahu kapan harus berlari, dan kapan harus berhenti berlari.

Sebab rakyat tidak butuh pemimpin yang selalu di depan. Kadang mereka hanya ingin pemimpin yang duduk di samping. Mendengar tanpa jam. Menjawab tanpa kamera.

Jika tidak, maka lari akan terus kehilangan maknanya. Ia tak lagi identik dengan hidup sehat. Melainkan simbol ketergesaan. Atau lebih jauhnya yakni ketidakhadiran.

Dan ketika itu terjadi, bukan rakyat yang tertinggal. Melainkan kepercayaan. (red)

0 Komentar